Nova Widianto Peraih Medali Perak Olimpiade Beijing 2008 Bareng Liliyana Natsir, Begini Kondisinya Sekarang

Andhika Khoirul Huda, Jurnalis · Sabtu 21 Agustus 2021 07:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 21 40 2458802 nova-widianto-peraih-medali-perak-olimpiade-beijing-2008-bareng-liliyana-natsir-begini-kondisinya-sekarang-c6uTUCBolm.jpg Nova Widianto, peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 yang kini menjadi asisten pelatih di nomor ganda campuran pelatnas PBSI. (Foto: PP PBSI)

NOVA Widianto merupakan salah satu pebulu tangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Turun di nomor ganda campuran sewaktu aktif sebagai pebulu tangkis, Nova Widianto pernah berpasangan dengan Vita Marissa dan Lilyana Natsir

Bersama dua perempuan Tangguh tersebut, Nova Widianto meraih banyak gelar di berbagai kejuaraan bulut angkis dunia. Namun, semua kesuksesan itu didapat setelah Nova Widianto mengalahkan rasa malasnya.

Nova Widianto dan Vita Marissa

(Nova Widianto saat berpasangan dengan Vita Marissa)

Pria yang lahir di Klaten pada 10 Oktober 1977 itu, mengenal dunia bulutangkis lewat ayahnya. Saat Nova Widianto duduk di kelas 3 SD, sang ayah yang hobi bermain bulutangkis itu mendaftarkannya ke sebuah klub di kota kelahirannya itu, yang bernama PB Kusuma.

Sejak saat itu Nova Widianto menjalani latihan rutin untuk menjadi atlet bulutangkis profesional. Rasa malas pun datang karena beratnya latihan yang dilakukannya. Ditambah lagi, saat itu sebenarnya dia lebih menyukai sepakbola daripada permainan bulu tangkis.

Perasaan malas itu juga ada karena jauhnya jarak antara rumah Nova Widianto dan tempat latihannya. Butuh 30 menit untuk sampai ke lokasi latihan dengan sepeda motor, dan memakan satu jam perjalanan jika mengayuh sepeda bersama teman-temannya.

Meski merasa malas dan berat, Nova Widianto tetap berlatih bulutangkis di PB Kusuma sampai dia duduk di kelas satu SMP. Setelah itu, ia dibawa ke Jakarta oleh seseorang bernama, Rambat Mochtar. Nova Widianto yang masih remaja dibawa olehnya bergabung dengan salah satu klub tersohor di Jakarta, PB Tangkas

Singkat kata, pria yang kini berusia 43 tahun itu masuk ke Pelatnas Cipayung pada awal 2000. Ia berhasil masuk ke Tim Merah-Putih setelah memenangkan Seleksi Nasional di sektor ganda campuran.

BACA JUGA: Praveen/Melati Gagal di Olimpiade Tokyo 2020, Nova Widianto: Kekalahan Ini Tanggung Jawab Saya

Sebelumnya, Nova Widianto sempat hampir masuk ke Pelatnas lewat nomor ganda putra. Namun, dia kalah di final Kejuaraan Nasional yang menjadi satu-satunya jalan untuknya masuk ke Pelatnas.

Setelah masuk pelatnas, Nova Widianto sempat merasa minder karena dia baru bergabung pada usia 21 tahun dan saat itu ada pemain-pemain yang seumuran dengannya, tapi sudah ada di peringkat atas ranking dunia.

Pada masa-masa awal kariernya di Pelatnas, Nova Widianto tidak langsung dipasangkan dengan Vita Marissa. Ia berpasangan dengan pemain lain dan belum dipercaya untuk bermain di turnamen internasional.

Namun, Nova Widianto berhasil mendapatkan kepercayaan Pelatnas setelah berjaya di berbagai ajang bulutangkis nasional. Setelah itu, ia baru dipasangkan dengan Vita Marissa di nomor ganda campuran.

Bersama Vita Marissa, Nova Widianto memenangkan medali emas SEA Games 2001, Kejuaraan Bulutangkis Asia 2003 dan Jepang Open 2004. Mereka juga sempat masuk ke final di beberapa turnamen internasional, namun tidak bisa meraih kemenangan.

Perjalanan Nova Widianto dan Vita Marissa harus berakhir pada 2004. Hal itu setelah Vita Marissa mengalami cedera bahu yang cukup parah dan harus menjalani perawatan sekira enam bulan. Setelah itu, barulah Nova Widianto dipasangkan dengan Lilyana Natsir alias Butet.

Nova Widianto dan Liliyana Natsir

(Nova Widianto dan Liliyana Natsir, salah satu ganda campuran terbaik yang pernah dimiliki Indonesia)

Ternyata perjodohannya dengan Butet berhasil membuat kariernya semakin meningkat. Nova Widianto dan Butet langsung masuk ke semifinal China Open dan berhasil juara di Singapura Open di dua turnamen pertama mereka tersebut..

Nova/Butet benar-benar merajai nomor ganda campuran sejak saat itu. Mereka juara di berbagai ajang turnamen internasional dan menjadi pasangan ganda campuran nomor satu di dunia.

Mereka juara di Singapore Open 2004 dan 2006, Indonesia Open 2005, Chinese Taipei Open 2006, Korea Open 2006, China Open 2007, Filipina Open 2007 dan masih banyak lagi.

Nova/Butet juga menjadi juara di Piala Dunia Bulutangkis 2006, Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2005 dan 2007 dan Kejuaraan Asia 2006. Selain itu, mereka juga mendapat emas di SEA Games 2005 dan 2009.

Puncak penampilan pasangan emas Indonesia ini adalah pada Olimpiade Beijing 2008. Mereka yang diunggulkan di tempat pertama mendapatkan medali perak di Beijing setelah kalah dari pasangan non-unggulan asal Korea Selatan, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung dengan skor 11-21 dan 17-21 di partai puncak.

Kekalahan di Beijing 2008 itu membuat Nova Widianto sempat merasa tidak bisa lagi mengimbangi Butet yang terus menginginkan banyak gelar. Faktor fisik yang menurun akibat perbedaan usia mereka berdua yang jauh menjadi alasan Nova Widianto mulai kehilangan ambisi untuk juara.

Nova Widianto memutuskan untuk mundur dari pelatnas pada 2010. Saat itu dia sering mengalami kekalahan dan sempat berpikir untuk ganti pasangan. Namun, dia akhirnya memutuskan untuk mundur daripada melanjutkan kariernya di pelatnas.

Akan tetapi, Nova Widianto tidak bisa jauh-jauh dari dunia bulutangkis. Kini dia kembali lagi ke Pelatnas dan berstatus sebagai asisten pelatih. Dia menjadi asisten pelatih nomor ganda campuran di tim Merah-Putih dan menemani Praveen Jordan/Melati Daeva di Olimpiade Tokyo 2020.

Praveen Jordan dan Melati Daeva

(Praveen/Melati, anak asuh Nova Widianto)

Nova Widianto mengacu pada pengalamannya sebagai pemain ketika mencari bakat atau melatih anak buahnya. Menurutnya, seorang pemain yang hebat tidak hanya dilihat dari bakat dan teknis bermainnya saja, tetapi juga dilihat dari karakternya yang kuat.

Asisten pelatih asal Klaten itu juga mengatakan banyak pemain-pemain muda yang bagus saat di level junior, tetapi ketika masuk ranking 20 dunia performa mereka merosot atau mandek karena tidak bisa menahan tekanan dan harapan besar yang ada pada diri mereka.

Hal itu menurutnya harus diperbaiki dan pemain-pemain harus memulainya dengan selalu serius ketika latihan. Karena apa yang ditampilkan pada pertandingan di turnamen adalah hasil kerja keras yang biasa mereka praktekan saat latihan, sehingga jika mereka konsisten mental kuat itu akan muncul dan bisa bermain lebih bagus saat turnamen.

Tentu harapannya Nova Widianto bisa melahirkan pebulu tangkis-pebulu tangkis andal, terutama di nomor ganda campuran. Dengan begitu, Indonesia semakin unjuk gigi di dunia perbulu tangkisan internasional.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini