OLIMPIADE telah menjadi salah satu event olahraga yang dinantikan para atlet dunia. Kini, atlet-atlet terbaik dari setiap negara di dunia pun tengah bersaing memperebutkan medali dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020 yang masih berlangsung hingga 8 Agustus 2021.
Jauh sebelum Olimpiade Tokyo 2020 digelar, event olahraga terbesar di dunia ini telah mengukir sejarah panjang. Tak ayal, serba-serbi kisah menarik tersaji selama perhelatan Olimpiade, baik dari zaman kuno hingga kini memasuki fase modern.

Di masa lampau, legenda Yunani kuno mengungkapkan bahwa pada 720 SM, seorang atlet Olimpiade bernama Orsippus dari Megara tengah berkompetisi dalam lomba lari 185 m ketika cawatnya terlepas.
Ketimbang berhenti guna menyembunyikan rasa malunya, Orsippus berlari dan memenangkan perlombaan. Teladan kemenangannya mengendap.
Kompetisi atletik dengan bertelanjang menjadi digemari di Yunani, dianggap sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi Zeus.
BACA JUGA: Selama Penyelenggaraan Olimpiade 2020, Tokyo Alami Rekor Kenaikan Kasus Covid-19
"Seluruh gagasan tentang heroisme dan kemenangan Orsippus, dan kemudian merayakannya bahwa dia telanjang," ujar Sarah Bond, guru besar sejarah di University of Iowa.
"Orang-orang Yunani telanjang menjadi cara untuk mengenali keyunanian dan kesopanannya."
Namun, pada saat Olimpiade modern dihidupkan kembali pada 1896, arus budaya telah lama berubah. Penyelenggara bahkan tidak mempertimbangkan untuk mengembalikan tradisi kompetisi telanjang ala Yunani.
Dalam kompetisi atletik modern, pakaian kini juga memainkan peran penting dalam kinerja. Sepatu memberikan pegangan dan menambah pegas pada langkah pelari. Kemudian, kostum renang dapat membantu perenang lebih mudah menyelinap di air dan pakaian yang ketat dapat mengurangi hambatan angin.