Sejarah Olimpiade, Kisah Atlet Yunani di Masa Lalu yang Telanjang saat Pertandingan Atletik

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 30 Juli 2021 07:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 30 43 2448226 sejarah-olimpiade-kisah-atlet-yunani-di-masa-lalu-yang-telanjang-saat-pertandingan-atletik-7ktKLdR5WA.jpg Bendera Olimpiade berkibar. (Foto: IOC)

OLIMPIADE telah menjadi salah satu event olahraga yang dinantikan para atlet dunia. Kini, atlet-atlet terbaik dari setiap negara di dunia pun tengah bersaing memperebutkan medali dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020 yang masih berlangsung hingga 8 Agustus 2021.

Jauh sebelum Olimpiade Tokyo 2020 digelar, event olahraga terbesar di dunia ini telah mengukir sejarah panjang. Tak ayal, serba-serbi kisah menarik tersaji selama perhelatan Olimpiade, baik dari zaman kuno hingga kini memasuki fase modern.

Olimpiade

Di masa lampau, legenda Yunani kuno mengungkapkan bahwa pada 720 SM, seorang atlet Olimpiade bernama Orsippus dari Megara tengah berkompetisi dalam lomba lari 185 m ketika cawatnya terlepas.

Ketimbang berhenti guna menyembunyikan rasa malunya, Orsippus berlari dan memenangkan perlombaan. Teladan kemenangannya mengendap.

Kompetisi atletik dengan bertelanjang menjadi digemari di Yunani, dianggap sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi Zeus.

BACA JUGA: Selama Penyelenggaraan Olimpiade 2020, Tokyo Alami Rekor Kenaikan Kasus Covid-19

"Seluruh gagasan tentang heroisme dan kemenangan Orsippus, dan kemudian merayakannya bahwa dia telanjang," ujar Sarah Bond, guru besar sejarah di University of Iowa.

"Orang-orang Yunani telanjang menjadi cara untuk mengenali keyunanian dan kesopanannya."

BACA JUGA: Greysia Polii Dipapah Keluar Lapangan Usai Menangi Perempatfinal Olimpiade Tokyo 2020, Ini Penjelasan Pelatih

Namun, pada saat Olimpiade modern dihidupkan kembali pada 1896, arus budaya telah lama berubah. Penyelenggara bahkan tidak mempertimbangkan untuk mengembalikan tradisi kompetisi telanjang ala Yunani.

Dalam kompetisi atletik modern, pakaian kini juga memainkan peran penting dalam kinerja. Sepatu memberikan pegangan dan menambah pegas pada langkah pelari. Kemudian, kostum renang dapat membantu perenang lebih mudah menyelinap di air dan pakaian yang ketat dapat mengurangi hambatan angin.

Di era siaran langsung televisi dan media sosial, bertanding dengan bertelanjang dapat menyebabkan penderitaan yang sangat besar bagi banyak atlet, kata para ahli.

Olimpiade musim panas di Tokyo yang digelar saat ini, bagaimanapun, menjanjikan untuk menjadi tidak biasa dalam banyak hal, mengingat kendala Covid-19.

Tetapi, bagaimana jika Olimpiade mengambil langkah yang lebih tidak biasa dengan mengembalikan ketelanjangan dari tradisi Olimpiade Yunani yang asli?

Meskipun tidak ada yang secara serius mempertimbangkan untuk melakukan ini, ide tersebut menimbulkan pertanyaan menarik tentang kinerja atletik, norma budaya, seksisme, dan banyak lagi.

Lebih dari kesopanan

Sebagai permulaan, bertanding dengan bertelanjang akan menciptakan masalah logistik yang canggung bagi banyak atlet.

Atletik

Sementara para pesaing di dunia modern sering melakukan aktivitas olahraganya nyaris telanjang - hanya mengenakan spandeks yang ketat, misalnya - dengan pakaian tertentu memang memiliki tujuan utama yang penting: demi menahan payudara perempuan dan alat kelamin pria di tempatnya.

"Tanpa bermaksud kasar, setidaknya itu membantu dalam hal kenyamanan," kata Shawn Deaton, direktur proyek khusus dari Pusat Perlindungan dan Kenyamanan Tekstil di North Carolina State University.

Di sisi lain, sejauh mana pakaian benar-benar berkontribusi pada kinerja atletik (bukan hanya kenyamanan) masih kurang jelas.

Menurut Olga Troynikov, profesor di bidang bahan fungsional dan teknik yang berpusat pada manusia di Universitas RMIT di Melbourne, hal itu benar-benar tergantung pada pakaiannya, kesesuaiannya dengan tubuh individu atlet dan jenis olahraganya.

Namun, secara umum, ada beberapa hal terkait pakaian bagi para atlet, kata Troynikov. Pertama, pakaian itu merampingkan tubuh dan "memperkuat Anda secara bersamaan," memungkinkan kekuatan otot diarahkan dengan lebih baik kepada aktivitas yang ada.

Sabuk angkat beban dan spandeks dapat membantu, misalnya, untuk menstabilkan otot-otot sehingga mereka dapat mengarahkan semua energinya ke arah aktivitas yang dilakukan.  Tanpa pakaian ini, kinerja barangkali akan terganggu.

Pakaian yang sangat halus juga dapat mengurangi hambatan yang dihadapi tubuh saat bergerak di udara atau air.

Misalnya, selain mencukur bulu kakinya, pebalap sepeda juga dapat memperoleh manfaat dari mengenakan pakaian ketat dengan resistansi yang sangat rendah terhadap udara. Bahan kain dan desain teknis

Namun, contoh paling meyakinkan dari keunggulan atletik yang diberikan oleh pakaian berasal dari cabang renang. Faktanya, olahraga ini nyaris "menjadi kompetisi di bidang teknik dan bukan hanya dalam kemampuan atletik tubuh manusia", kata Troynikov.

Isu ini menjadi berita utama pada 2008 ketika perenang yang berkompetisi di Olimpiade Beijing memecahkan 25 rekor dunia - 23 di antaranya oleh atlet yang mengenakan setelan khusus poliuretan seluruh tubuh yang disebut LZR Racer. Pakaian olahraga dirancang untuk meningkatkan kinerja.

Menurut NASA, yang ilmuwannya membantu merancang LZR Racer, setelan mutakhir itu mengurangi gesekan kulit sebesar 24% dan juga menekan tubuh pemakainya guna mengurangi hambatan.

Pada 2010, FINA, badan renang internasional, menetapkan bahwa LZR Racer dan pakaian serupa memberikan keuntungan yang amat tidak adil bagi pemakainya.

FINA sekarang melarang atlet berkompetisi dalam setelan apa pun yang membantu kecepatan, daya apung, atau kinerja.

Akibatnya, ini berarti bahwa - selain dari tarikan yang ditambahkan oleh payudara atau alat kelamin yang menggantung - telanjang mungkin tidak akan mempengaruhi kinerja perenang secara dramatis.

Dalam hal olahraga musim panas lainnya, kontribusi keseluruhan pakaian untuk catatan waktu atau skor yang lebih baik lebih dipertanyakan, kata Troynikov.

"Ada banyak klaim bahwa pakaian berkontribusi pada hal ini dan itu, tetapi sesungguhnya, tidak banyak hal terbukti."

Pakaian kompresi, misalnya, dirancang untuk mengubah cara darah mengalir ke seluruh tubuh guna meningkatkan oksigenasi.

Faktanya, penelitian ini terbagi sekitar 50-50 antara yang mendukung dan menentang peningkatan kinerja ketika atlet mengenakan bahana pakaian tersebut.

"Ada beberapa penelitian, tapi tidak meyakinkan," kata Troynikov.

Penyempurnaan alas kaki

Sepatu, di sisi lain, adalah cerita yang berbeda, tidak hanya untuk meningkatkan kinerja, tetapi juga untuk memastikan keamanan.

Alas kaki yang tepat yang memberikan dukungan dan bantalan lengkung dan tumit untuk bola kaki secara signifikan membantu dalam berlari, melompat, dan berbelok dengan cepat.

Sepatu juga mengurangi benturan pada tungkai bawah, tulang, ligamen, dan otot.

"Kaki menanggung semua berat tubuh," kata Pamela McCauley, seorang insinyur industri di Wilson College of Textiles di North Carolina State University.

"Itulah mengapa sangat penting untuk memiliki penyangga kaki yang sangat baik, untuk menopang tubuh Anda."

Pakaian renang LZR Racer dirancang untuk meminimalkan berbagai hambatan. Untuk keamanan, beberapa olahraga membutuhkan alas kaki yang lebih khusus.

Atlet yang bertanding dalam cabang layara Olimpiade, misalnya, mengandalkan sepatunya untuk mengurangi selip dan membantu kondisi stabil saat menggantung di sisi perahu. Hal ini mengurangi potensi kecelakaan berbahaya sekaligus meningkatkan kinerja.

Secara keseluruhan, demikian McCauley, "Jika mereka ingin kembali menggelar Olimpiade telanjang, tidak apa-apa, tetapi setidaknya gunakan alas kaki."

Menuju Olimpiade telanjang juga dapat memengaruhi siapa yang akhirnya akan berkompetisi. Sepatu atau tanpa sepatu, beberapa atlet - jika dihadapkan dengan kewajiban telanjang - dapat memilih untuk mengundurkan diri dari Olimpiade sebagai bentuk protes.

Negara-negara yang lebih konservatif juga dapat melarang pesaingnya untuk berpartisipasi sama sekali.

"Bagi budaya di mana kesopanan memainkan peran penting, Olimpiade telanjang tak akan menjadi pilihan," kata Ruth Barcan, profesor studi gender di University of Sydney, dan penulis Nudity: A Cultural Anatomy.

Di masa lalu, para peserta Olimpiade dilatih tak hanya untuk bersaing, tetapi untuk mencapai kemampuan fisik yang melampaui orang-orang biasa. Juga akan ada pertanyaan hukum dan etika yang serius jika atlet di bawah usia 18 tahun juga diminta untuk bertanding dalam keadaan telanjang.

Sementara atlet telanjang laki-laki berusia 12 tahun berpartisipasi dalam Olimpiade Yunani kuno, mengingat sifat religius dari permainan tersebut, Bond mengatakan, aktivitas seksual atau seksualisasi atlet sangat dilarang dan akan sangat tidak disukai.

Itu tidak akan terjadi hari ini. "Ketelanjangan di Olimpiade memiliki arti yang berbeda saat itu," kata Bond.

"Hari ini, itu akan menjadi sangat seksual dan sangat pornografi, dan itu akan menjadi sangat predator, pada gilirannya."

Telanjang di TV dan media sosial

Di Yunani kuno, Olimpiade juga dilihat oleh penonton laki-laki terutama kaum elite, yang semuanya berasal dari latar belakang budaya dan agama yang sama (beberapa perempuanyang belum menikah juga diizinkan untuk hadir).

Hari ini, di sisi lain, pertandingan disiarkan ke jutaan orang di seluruh dunia.

Sementara negara-negara konservatif kemungkinan akan melarang stasiun televisinya menyiarkan Olimpiade, di tempat-tempat yang lebih liberal, "perusahaan media akan menjadi bersemangat", kata Barcan.

Reaksi di antara pemirsa, di sisi lain, akan sangat beragam. "Bagi setiap orang yang menganggap sesuatu itu artistik dan berkelas serta mulia, dan Anda akan menyebut orang-orang lain yang menganggapnya menjijikkan," kata Barcan.

Media sosial akan memastikan bahwa spektrum penuh pandangan akan menyebar jauh dan luas, hampir pasti mempengaruhi kinerja para atlet yang tubuhnya sedang dicermati secara teliti - baik atau buruk.

Atlet yang lebih bebas mungkin menyukai perhatian. "Mereka akan memiliki tubuh yang sempurna dan memamerkannya," kata Barcan.

Tetapi bahkan pesaing yang paling percaya diri pun barangkali sulit mendapatkan perhatian. "Mereka tidak mengendalikan apa yang dibuat oleh media dan budaya pop," tambah Barcan.

Atlet perempuan dan transgender, lanjut Barcan, "tidak diragukan lagi" akan menghadapi lebih banyak penilaian ketimbang atlet pria. Ada banyak preseden bersejarah untuk ini.

Ketika Brandi Chastain melepas kausnya setelah mencetak gol penentu di Piala Dunia Perempuan 1999, misalnya, foto-foto pemain sepak bola dengan bra olahraganya membuat heboh media internasional - terlepas dari kenyataan bahwa atlet pria, tentu saja, terlihat bertelanjang dada sepanjang waktu.

"Bahkan hal itu dilecehkan oleh publik Amerika," kata Bond. "Saya hanya bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika atlet benar-benar telanjang."

Memang, bagi banyak atlet, efek psikologis dari Olimpiade telanjang barangkali jauh lebih besar ketimbang efek fisik lantaran tak mengenakan pakaian.

"Bayangkan tugas untuk mencoba menyaring sejuta suara yang mengomentari bagian paling intim dari tubuh Anda," kata Barcan.

Jika ketelanjangan dijadikan bahan pokok Olimpiade secara permanen, maka seiring waktu, masyarakat mungkin akan kembali ke tradisi Yunani dalam memandang ketelanjangan atletik melalui lensa kepahlawanan dan perayaan.

Tapi itu pasti tidak akan terjadi dalam semalam, kata Barcan. Sementara itu, bagi banyak atlet, energi emosional yang diperlukan untuk menghilangkan beban budaya dan penilaian masyarakat seputar ketelanjangan mungkin akan berpengaruh besar pada kinerja.

Di bawah batasan ini, pemenang Olimpiade musim panas telanjang pertama bisa menjadi bukan mereka yang memiliki kecakapan atletik terbesar, tetapi mereka yang memiliki kemampuan terkuat untuk menyalurkan pola pikir Yunani kuno.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini