Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Olimpiade, Kisah Atlet Yunani di Masa Lalu yang Telanjang saat Pertandingan Atletik

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 30 Juli 2021 |07:27 WIB
Sejarah Olimpiade, Kisah Atlet Yunani di Masa Lalu yang Telanjang saat Pertandingan Atletik
Bendera Olimpiade berkibar. (Foto: IOC)
A
A
A

Pakaian renang LZR Racer dirancang untuk meminimalkan berbagai hambatan. Untuk keamanan, beberapa olahraga membutuhkan alas kaki yang lebih khusus.

Atlet yang bertanding dalam cabang layara Olimpiade, misalnya, mengandalkan sepatunya untuk mengurangi selip dan membantu kondisi stabil saat menggantung di sisi perahu. Hal ini mengurangi potensi kecelakaan berbahaya sekaligus meningkatkan kinerja.

Secara keseluruhan, demikian McCauley, "Jika mereka ingin kembali menggelar Olimpiade telanjang, tidak apa-apa, tetapi setidaknya gunakan alas kaki."

Menuju Olimpiade telanjang juga dapat memengaruhi siapa yang akhirnya akan berkompetisi. Sepatu atau tanpa sepatu, beberapa atlet - jika dihadapkan dengan kewajiban telanjang - dapat memilih untuk mengundurkan diri dari Olimpiade sebagai bentuk protes.

Negara-negara yang lebih konservatif juga dapat melarang pesaingnya untuk berpartisipasi sama sekali.

"Bagi budaya di mana kesopanan memainkan peran penting, Olimpiade telanjang tak akan menjadi pilihan," kata Ruth Barcan, profesor studi gender di University of Sydney, dan penulis Nudity: A Cultural Anatomy.

Di masa lalu, para peserta Olimpiade dilatih tak hanya untuk bersaing, tetapi untuk mencapai kemampuan fisik yang melampaui orang-orang biasa. Juga akan ada pertanyaan hukum dan etika yang serius jika atlet di bawah usia 18 tahun juga diminta untuk bertanding dalam keadaan telanjang.

Sementara atlet telanjang laki-laki berusia 12 tahun berpartisipasi dalam Olimpiade Yunani kuno, mengingat sifat religius dari permainan tersebut, Bond mengatakan, aktivitas seksual atau seksualisasi atlet sangat dilarang dan akan sangat tidak disukai.

Itu tidak akan terjadi hari ini. "Ketelanjangan di Olimpiade memiliki arti yang berbeda saat itu," kata Bond.

"Hari ini, itu akan menjadi sangat seksual dan sangat pornografi, dan itu akan menjadi sangat predator, pada gilirannya."

Telanjang di TV dan media sosial

Di Yunani kuno, Olimpiade juga dilihat oleh penonton laki-laki terutama kaum elite, yang semuanya berasal dari latar belakang budaya dan agama yang sama (beberapa perempuanyang belum menikah juga diizinkan untuk hadir).

Hari ini, di sisi lain, pertandingan disiarkan ke jutaan orang di seluruh dunia.

Sementara negara-negara konservatif kemungkinan akan melarang stasiun televisinya menyiarkan Olimpiade, di tempat-tempat yang lebih liberal, "perusahaan media akan menjadi bersemangat", kata Barcan.

Reaksi di antara pemirsa, di sisi lain, akan sangat beragam. "Bagi setiap orang yang menganggap sesuatu itu artistik dan berkelas serta mulia, dan Anda akan menyebut orang-orang lain yang menganggapnya menjijikkan," kata Barcan.

Media sosial akan memastikan bahwa spektrum penuh pandangan akan menyebar jauh dan luas, hampir pasti mempengaruhi kinerja para atlet yang tubuhnya sedang dicermati secara teliti - baik atau buruk.

Atlet yang lebih bebas mungkin menyukai perhatian. "Mereka akan memiliki tubuh yang sempurna dan memamerkannya," kata Barcan.

Tetapi bahkan pesaing yang paling percaya diri pun barangkali sulit mendapatkan perhatian. "Mereka tidak mengendalikan apa yang dibuat oleh media dan budaya pop," tambah Barcan.

Atlet perempuan dan transgender, lanjut Barcan, "tidak diragukan lagi" akan menghadapi lebih banyak penilaian ketimbang atlet pria. Ada banyak preseden bersejarah untuk ini.

Ketika Brandi Chastain melepas kausnya setelah mencetak gol penentu di Piala Dunia Perempuan 1999, misalnya, foto-foto pemain sepak bola dengan bra olahraganya membuat heboh media internasional - terlepas dari kenyataan bahwa atlet pria, tentu saja, terlihat bertelanjang dada sepanjang waktu.

"Bahkan hal itu dilecehkan oleh publik Amerika," kata Bond. "Saya hanya bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika atlet benar-benar telanjang."

Memang, bagi banyak atlet, efek psikologis dari Olimpiade telanjang barangkali jauh lebih besar ketimbang efek fisik lantaran tak mengenakan pakaian.

"Bayangkan tugas untuk mencoba menyaring sejuta suara yang mengomentari bagian paling intim dari tubuh Anda," kata Barcan.

Jika ketelanjangan dijadikan bahan pokok Olimpiade secara permanen, maka seiring waktu, masyarakat mungkin akan kembali ke tradisi Yunani dalam memandang ketelanjangan atletik melalui lensa kepahlawanan dan perayaan.

Tapi itu pasti tidak akan terjadi dalam semalam, kata Barcan. Sementara itu, bagi banyak atlet, energi emosional yang diperlukan untuk menghilangkan beban budaya dan penilaian masyarakat seputar ketelanjangan mungkin akan berpengaruh besar pada kinerja.

Di bawah batasan ini, pemenang Olimpiade musim panas telanjang pertama bisa menjadi bukan mereka yang memiliki kecakapan atletik terbesar, tetapi mereka yang memiliki kemampuan terkuat untuk menyalurkan pola pikir Yunani kuno.

(Djanti Virantika)

Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement