Imbas Virus Korona, Balapan F1 Dibatalkan jika Kurang dari 10 Tim

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 04 Maret 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 04 37 2178189 imbas-virus-korona-balapan-f1-dibatalkan-jika-kurang-dari-10-tim-TtgXtIpPPL.jpg Balapan F1 2020 bisa dibatalkan jika suatu tim ditolak masuk negara tuan rumah (Foto: Twitter/@F1)

SILVERSTONE – Direktur Olahraga Formula One (F1), Ross Brawn, menegaskan balapan tidak akan berlangsung jika satu tim ditolak ikut lomba. Sebab, hal tersebut terasa tidak adil kecuali tim tersebut memutuskan sendiri untuk tidak berpartisipasi.

Sejauh ini baru satu seri yang ditunda dari kalender F1 akibat wabah virus Korona, yakni GP China 2020 pada 19 April mendatang. Akan tetapi, wabah virus Covid-19 bisa mengancam keberlangsungan balap jet darat itu karena kondisi di Italia saat ini.

Baca juga: Tidak Adil jika 4 Tim F1 Gagal Balapan karena Imbas Virus Korona

Infografis mencegah virus Korona Covid-19

Sedikitnya 50 orang tewas dan sudah lebih dari 2000 kasus positif terjangkit virus Korona di Italia. Padahal, Negeri Pizza merupakan markas besar dari tim paling sukses di F1, Scuderia Ferrari. Bukan tidak mungkin kru dan teknisi The Prancing Horse dilarang masuk suatu negara sebagai tindakan preventif terhadap virus Korona.

Satu negara penyelenggara, Vietnam, sudah memberlakukan aturan karantina bagi pendatang berpaspor atau yang pernah pergi ke Italia dalam jangka waktu dua pekan terakhir. Situasi tersebut dikhawatirkan membuat Scuderia Ferrari tidak bisa datang ke Negeri Paman Ho, sesuatu yang disesalkan Ross Brawn.

“Jika sebuah tim dicegah masuk ke sebuah negara, kami tidak bisa menggelar balapan. Itu bukan sebuah balapan Kejuaraan Dunia F1 karena situasi tersebut sangat tidak adil,” ujar Ross Brawn dalam sebuah acara di Inggris, mengutip dari Reuters, Rabu (4/3/2020).

“Tentu saja jika tim itu yang memutuskan sendiri untuk tidak balapan, maka kita harus menghormati keputusan mereka. Namun, jika sebuah tim tidak bisa ikut balapan karena keputusan dari sebuah negara, maka akan sulit untuk memiliki kompetisi yang adil,” tegas pria berkebangsaan Inggris tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini