Jalan Tengah untuk PB Djarum dan KPAI soal Audisi Beasiswa Bulu Tangkis

Djanti Virantika, Jurnalis · Senin 09 September 2019 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 09 40 2102362 jalan-tengah-untuk-pb-djarum-dan-kpai-soal-audisi-beasiswa-bulu-tangkis-ETR0NqH31V.jpg Audisi Beasiswa Bulu Tangkis PB Djarum. (Foto: Laman resmi PB Djarum)

JAKARTA – Pengamat bulu tangkis, Broto Happy, menilai perlu ada jalan tengah yang diambil PB Djarum dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar beasiswa bulu tangkis bisa terus berjalan. Ia pun turut memberi win-win solution yang bisa digunakan kedua belah pihak untuk mengatasi polemik tersebut.

Menurut Broto, pihak KPAI seharusnya tak melarang penyelenggaraan audisi karena kegiatan tersebut memiliki tujuan yang positif. Untuk mengatasi masalah brand image produk rokok yang dianggap melekat dalam audisi tersebut, KPAI bisa meminta pihak PB Djarum mengubah regulasi, terutama dalam penggunaan kaus para peserta audisi yang dianggap sarat dengan produk.

BACA JUGA: Broto Happy: Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis Seharusnya Tak Berhenti

Pihak PB Djarum memiliki dua cara untuk mengatasi masalah ini. Pertama, mereka bisa membebaskan para peserta untuk mengenakan kaus dari klub masing-masing selama audisi. Dengan begitu, brand image soal produk rokok bisa teratasi.

Peserta audisi beasiswa bulu tangkis PB Djarum

“KPAI memiliki payung hukum atau landasan, adanya undang-undang soal perlindungan anak. Kuncinya itu sebenarnya menurut saya, KPAI jangan melarang kegiatan audisinya. Kalau keberatan, ya soal brand image atau logo di kaus peserta audisi saja. Seharusnya itu saja yang dijadikan fokusnya, bukan soal audisinya,” ujar Broto kepada Okezone, Senin (9/9/2019).

“Audisinya bagus, cuma KPAI harusnya lebih fokus ke soal kaus, (soal tulisan) yang ada di dada pemain karena seringnya berupa produk tembakau dan produk tersebut termasuk yang mungkin tidak boleh untuk anak-anak. Ini win-win solution-nya, kalau Djarum mau, sebenarnya peserta audisi itu bisa menggunakan kaus asal klub mereka masing-masing. Itu bisa disiasati jika KPAI (menyoroti) soal adanya brand image di kaus pemain,” lanjutnya.

“Audisi bisa tetap jalan, soal adanya brand image tulisan Djarum di poster, spanduk, event, mungkin bisa dikurangi. Peserta yang tampil bisa menggunakan kaus asal klub masing-masing karena toh para peserta tidak langsung resmi menjadi pemain Djarum. Mereka berasal dari mana saja, seluruh klub di penjuru Tanah Air. Mereka baru secara resmi diterima sebagai anggota klub PB Djarum setelah lolos audisi. Jadi, ketika mereka ikut audisi seharusnya bebas saja,” jelas Broto.

Peserta audisi beasiswa bulu tangkis PB Djarum

Saran kedua yang diutarakan Broto adalah mengenakan kaus dengan sponsor anak perusahaan Djarum. Untuk menjaga kemeriahan audisi, PB Djarum bisa tetap menyeragamkan pakaian para peserta audisi. Tetapi, sponsor bisa menggunakan anak perusahaan dari PB Djarum yang nontembakau.

“Kedua, jika Djarum ingin tetap kegiatannya semarak sehingga mengenakan kaus seragam yang warna dan tulisannya sama, nah mereka bisa menggunakan sponsor anak perusahaannya saja, tidak harus Djarum. Anak perusahaannya kan banyak. Jadi, peserta audisi ini bisa tetap tampil dengan kaus seragam agar terlihat bagus, meriah, dan semarak dengan produk-produk yang nontembakau,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini