JAKARTA – Pengamat bulu tangkis, Broto Happy, menilai perlu ada jalan tengah yang diambil PB Djarum dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar beasiswa bulu tangkis bisa terus berjalan. Ia pun turut memberi win-win solution yang bisa digunakan kedua belah pihak untuk mengatasi polemik tersebut.
Menurut Broto, pihak KPAI seharusnya tak melarang penyelenggaraan audisi karena kegiatan tersebut memiliki tujuan yang positif. Untuk mengatasi masalah brand image produk rokok yang dianggap melekat dalam audisi tersebut, KPAI bisa meminta pihak PB Djarum mengubah regulasi, terutama dalam penggunaan kaus para peserta audisi yang dianggap sarat dengan produk.
BACA JUGA: Broto Happy: Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis Seharusnya Tak Berhenti
Pihak PB Djarum memiliki dua cara untuk mengatasi masalah ini. Pertama, mereka bisa membebaskan para peserta untuk mengenakan kaus dari klub masing-masing selama audisi. Dengan begitu, brand image soal produk rokok bisa teratasi.

“KPAI memiliki payung hukum atau landasan, adanya undang-undang soal perlindungan anak. Kuncinya itu sebenarnya menurut saya, KPAI jangan melarang kegiatan audisinya. Kalau keberatan, ya soal brand image atau logo di kaus peserta audisi saja. Seharusnya itu saja yang dijadikan fokusnya, bukan soal audisinya,” ujar Broto kepada Okezone, Senin (9/9/2019).
“Audisinya bagus, cuma KPAI harusnya lebih fokus ke soal kaus, (soal tulisan) yang ada di dada pemain karena seringnya berupa produk tembakau dan produk tersebut termasuk yang mungkin tidak boleh untuk anak-anak. Ini win-win solution-nya, kalau Djarum mau, sebenarnya peserta audisi itu bisa menggunakan kaus asal klub mereka masing-masing. Itu bisa disiasati jika KPAI (menyoroti) soal adanya brand image di kaus pemain,” lanjutnya.