PERJUANGAN kontingen Indonesia di Olimpiade Catur 2026 di Samarkand, Uzbekistan, terus berlanjut hingga babak kedelapan. Dengan tiga babak tersisa, peluang Indonesia untuk memperbaiki posisi akhir masih terbuka.
Hasil berbeda diraih tim putra dan putri Indonesia pada babak ketujuh. Tim putra harus mengakui keunggulan Ukraina, sedangkan tim putri berhasil mengamankan kemenangan atas Singapura.
Tim Catur Indonesia Putra kalah 0,5-3,5 dari Ukraina yang berstatus unggulan ke-12 turnamen. Meski gagal meraih kemenangan tim, IM Gilbert Elro Tarigan (2416) mencatat hasil penting setelah menahan remis pecatur legendaris Ukraina, GM Vasyl Ivanchuk (2630), di papan kedua.
Hasil remis tersebut menjadi torehan positif bagi Gilbert saat menghadapi pecatur berpengalaman dengan rating jauh lebih tinggi. Tambahan tersebut juga memberikan dampak terhadap perolehan rating individu Gilbert.
Sementara itu, Tim Catur Indonesia Putri tampil lebih meyakinkan dengan menundukkan Singapura 3-1. Namun, WIM Diajeng Theresa Singgih (2280) harus mengakui keunggulan WGM Qianyun Gong (2182) di papan pertama.
Memasuki babak kedelapan, posisi Indonesia masih menunjukkan persaingan yang cukup ketat. Sekretaris Jenderal PB Percasi, Nanang Pujalaksana, menyebut peluang untuk memperbaiki posisi masih terbuka dengan tersisa tiga babak.
"Saat ini sampai dengan babak 8 tim putri berada pada rangking 14 dari 189 negara dan tim putra rangking 48 dari 206 negara. Saat ini menyisakan 3 babak terakhir dan masih besar harapan untuk meningkatkan posisi peringkat," ujar Nanang, Sabtu (26/9/2026).
Nanang menegaskan perjuangan Indonesia belum berakhir dan peluang meraih hasil lebih baik masih terbuka. Ia juga menyebut Indonesia masih berpeluang bersaing di kategori atau Seed B sekaligus memperbaiki posisi klasemen secara keseluruhan.
"Perjuangan tim Indonesia belum berakhir, masih ada babak terakhir yang tentunya Indonesia masih berpotensi untuk memperbaiki peringkat, bahkan memungkinkan bisa juara di kategori atau Seed B. Untuk secara keseluruhan, kita masih berpotensi memperbaiki peringkat," tutur Nanang.
"Mudah-mudahan kami bisa meraih hasil maksimal pada peringkat 20 besar, itu harapan kami," tambahnya.
Harapan serupa disampaikan Ketua PB Percasi yang juga Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran. Meski tidak dapat mendampingi langsung di Samarkand, ia mengaku terus memantau perjuangan para pecatur Indonesia.
"Ini waktunya tim catur Indonesia bisa menorehkan sejarah baru, meski saya tidak bisa mendampingi namun saya terus memantau dan mendoakan yang terbaik untuk tim," ujar Agustiar.
Keikutsertaan Indonesia di Samarkand 2026 juga menambah panjang catatan Merah Putih di panggung Olimpiade Catur dunia. Sejak debut pada Olimpiade Catur 1960 di Leipzig, Jerman Timur, edisi tahun ini menjadi partisipasi ke-28 tim putra Indonesia setelah resmi bergabung dengan FIDE.
Dalam perjalanannya, tim putra Indonesia tercatat empat kali absen dari Olimpiade Catur. Indonesia tidak tampil pada 1964 dan 1976 karena persoalan politik terkait lokasi penyelenggaraan di Israel, serta pada 1968 dan 1998 akibat dinamika politik dalam negeri.
Sementara itu, Olimpiade Catur 2026 menjadi keikutsertaan ke-20 bagi tim putri Indonesia. Tim putri pertama kali tampil di ajang tersebut pada 1982 di Lucerne, Swiss.
Indonesia juga memiliki sejumlah catatan prestasi dalam sejarah Olimpiade Catur. Pencapaian terbaik tim putra terjadi pada 1986 di Dubai ketika menempati peringkat ke-19 dari 108 negara, sedangkan tim putri mencatat hasil terbaik dengan finis di posisi ke-11 dari 74 negara pada 1996 di Yerevan, Armenia.
Prestasi individu juga pernah ditorehkan sejumlah pecatur Indonesia di panggung Olimpiade Catur. GM Utut Adianto meraih medali perak Papan 2 di Dubai 1986 dan emas Papan 1 di Istanbul 2000, sedangkan GM Cerdas Barus merebut emas Papan 3 di Bled 2002.
Pada Olimpiade 2004 di Mallorca, Spanyol, Susanto Megaranto berhasil meraih gelar Grandmaster. Di ajang yang sama, WGM Irene Kharisma Sukandar menyumbangkan medali perak Papan 3 untuk Indonesia.
(Wikanto Arungbudoyo)