LANGKAH besar pembalap asal Turki, Toprak Razgatlioglu, untuk menyeberang ke ajang MotoGP bersama tim Pramac Yamaha ternyata menyimpan tantangan mental yang tidak mudah. Toprak yang berstatus juara dunia World Superbike (WSBK) kini justru kesulitan beradaptasi di paruh musim MotoGP 2026.
Setelah mendulang kesuksesan besar dengan mengoleksi tiga gelar juara dunia di ajang World Superbike, ekspektasi tinggi langsung disematkan kepada Toprak ketika memutuskan naik kelas ke MotoGP. Namun, Toprak lupa di MotoGP ia masih berstatus rookie.
Terbukti di musim debutnya di tahun 2026 ini, perjalanan Toprak diwarnai dengan proses adaptasi yang cukup terjal. Terutama karena karakteristik ban Michelin yang sangat berbeda dengan pengalaman balapnya terdahulu di WSBK.
Menghadapi situasi kompetitif yang sangat ketat, pembalap berjuluk El Turco itu tidak menutup-nutupi realita sulit yang sedang dihadapinya setelah melewati paruh pertama musim balap tahun ini.
Hingga merampungkan 11 seri balapan, Toprak masih tertahan di peringkat ke-21 klasemen sementara pembalap MotoGP 2026 dengan mengoleksi 12 poin. Sejauh ini, hasil terbaik Toprak adalah finis di posisi ke-11 kala mentas di MotoGP Hungaria 2026.
Dalam wawancara eksklusif bersama laman resmi MotoGP, Toprak mengakui dirinya sudah menyadari sejak awal penandatanganan kontrak bahwa musim pertamanya bersama Yamaha tidak akan berjalan instan.
Kendati demikian, sifat aslinya sebagai seorang pemenang kerap membuatnya merasa kesulitan untuk menerima hasil-hasil minor yang didapatkannya di atas lintasan sirkuit dunia.
“Saya adalah seorang pembalap yang terbiasa menang. Ketika saya menandatangani kontrak MotoGP, saya tahu tahun pertama bagi saya tidak akan mudah," ungkap Toprak, dikutip dari laman resmi MotoGP, Kamis (6/8/2026).
Toprak juga menambahkan bahwa menjaga kondisi mental jauh lebih krusial dibanding sekadar aspek fisik demi bisa menghadapi tekanan luar biasa di kelas premier Grand Prix. Tekanan yang ia terima nyatanya turut mempengaruhi penampilannya di lintasan balap.
“Saya mencoba untuk tetap kuat, tetapi terkadang tidak mudah juga untuk memahami situasinya. Ini adalah tahun pembelajaran, tetapi terkadang Anda melupakan ini," tambahnya.
Meskipun hasil Toprak di atas lintasan belum sesuai harapan, kru mekanik andalnya, Alberto Giribuola, tetap memuji gaya balap rider asal Turki tersebut. Toprak dinilai terkadang memunculkan magis tersendiri di atas motor.
Di tengah masa-masa sulitnya beradaptasi, Toprak justru diproyeksikan menjadi pilar penting Yamaha pada musim 2027 mendatang karena statusnya sebagai pembalap paling berpengalaman di dalam garasi pabrikan garpu tala tersebut.
Menanggapi segala sorotan dan ekspektasi besar yang mengarah kepadanya, pembalap berusia matang ini menegaskan bahwa popularitas tidak akan pernah mengubah kepribadian sederhananya di luar arena balap.
“Karakter saya tidak pernah berubah. Saya tidak akan pernah menjadi superstar - saya tidak menyukai ini. Di luar trek, saya adalah Toprak yang normal. Ini tidak akan pernah berubah," pungkas Toprak.
(Rivan Nasri Rachman)