ADA 3 pebulu tangkis Indonesia yang tercatat pernah dihukum seumur hidup oleh BWF karena masalah match fixing atau pengaturan skor. Kabar buruknya, Indonesia kembali diguncang oleh isu dugaan pengaturan skor tersebut yang menyeret nama sejumlah atlet nasional.
Dugaan itu menyusul kabar dua pasangan ganda campuran Indonesia, yakni Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dipastikan mundur dari ajang BWF World Championships 2026.
Menurut Sekjen PP PBSI, Ricky Soebagdja, penarikan diri kedua pasangan tersebut merupakan bagian dari langkah penyesuaian organisasi. PBSI juga menanggapi isu dugaan keterlibatan pemain dalam pelanggaran integritas, di mana saat ini Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tengah menjalankan proses peradilan independen (judicial proceedings).
"Sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam proses tersebut, PBSI tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai substansi perkara maupun mengaitkan proses yang sedang berlangsung dengan atlet tertentu," ujar Ricky dalam pernyataan resminya, dikutip Selasa (4/8/2026).
"Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk media dan masyarakat, untuk menghormati proses yang sedang berjalan serta menghindari spekulasi hingga terdapat keputusan resmi dari Independent Hearing Panel BWF," tambahnya.
PBSI memilih menghormati proses yang berjalan dan meminta publik menghindari spekulasi hingga ada keputusan resmi dari Independent Hearing Panel BWF. Isu integritas ini tentu mengingatkan publik pada kasus serupa di masa lalu.
Pada Januari 2020, BWF pernah menjatuhkan sanksi tegas larangan bermain seumur hidup kepada tiga pebulu tangkis profesional Indonesia yang terbukti terlibat match fixing.