KISAH pebulu tangkis China, Lin Dan, legenda The Big 4 yang memiliki rekor unik dengan publik Istora Senayan menarik untuk dibahas. Sebagai informasi, Lin Dan sering kali dinobatkan sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa berkat lemari trofinya yang sangat megah.
Pria berjuluk Super Dan tersebut sukses mengoleksi gelar juara yang sangat lengkap dari berbagai ajang bergengsi dunia. Catatan prestasinya mencakup kategori individu maupun beregu yang membentang di sepanjang karier profesionalnya.
Di sektor beregu, ia berhasil mengantar tim nasional China menjuarai Piala Sudirman sebanyak lima kali. Tidak hanya itu, ia juga sukses membawa skuad putra Negeri Tirai Bambu merajai ajang Piala Thomas hingga enam kali menjadi kampiun.
Koleksi titel individunya juga tidak kalah mentereng dan sukses membawanya meraih status prestisius Super Grand Slam. Lin Dan pernah memenangi seluruh turnamen mayor mulai dari All England, Kejuaraan Asia, Kejuaraan Dunia, hingga menyabet medali emas Olimpiade.
Berbagai pencapaian luar biasa tersebut sempat mengantarkannya menduduki peringkat pertama dunia di ranking BWF dalam durasi yang sangat panjang. Ketangguhannya di lapangan membuat namanya disegani oleh seluruh lawan dan dicintai oleh penggemar global.
Kendati memiliki karier yang sangat cemerlang di kancah internasional, perjalanan sang legenda justru menyimpan sebuah fakta unik ketika harus bertanding di Indonesia. Alih-alih menikmati sambutan hangat, pemilik tangan kidal ini mengaku tidak pernah menyukai atmosfer penonton di Indonesia.
Lin Dan secara terbuka pernah mengungkapkan rasa ketidaksukaannya terhadap keriuhan yang diciptakan oleh para suporter ketika bertanding di Istora Senayan, Jakarta. Menurut pandangannya, suara bising dari tribun penonton terlalu mengganggu konsentrasi bertandingnya di lapangan.
Kondisi psikologis dan ketidaknyamanan tersebut disinyalir menjadi salah satu alasan mengapa ia memiliki rekor minor di Indonesia. Sepanjang kariernya, pebulu tangkis hebat tersebut tercatat tidak pernah sekalipun merengkuh gelar juara di turnamen Indonesia Open maupun Indonesia Masters.
Pencapaian tertinggal dan paling maksimal yang pernah ia catatkan di publik Indonesia hanyalah menembus babak semifinal pada ajang Indonesia Open 2004 silam. Hal ini menunjukkan betapa angkernya Istora Senayan bagi salah satu tunggal putra terhebat dalam sejarah bulu tangkis dunia.
Kisah perjalanan Lin Dan membuktikan bahwa bahkan seorang pemain dengan status GOAT sekalipun pernah merasa tertekan oleh kegilaan badminton lovers Indonesia. Atmosfer kandang yang luar biasa bising terbukti menjadi benteng tersendiri yang sulit ditaklukkan oleh sang legenda asal China.
(Rivan Nasri Rachman)