Bezzecchi lalu menceritakan momen-momen horor yang terjadi. Sampai akhirnya, tim medis memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit di Groningen guna pengecekan lebih lanjut.
“Saya sedang mengejar Marc untuk posisi empat dan mendorong motor terlalu keras, (hingga) kehilangan kontrol ban depan di kecepatan 200 km/jam. Dari situ, saya tidak bisa mengontrol laju motor, dan berakhir di tembok,” kata Bezzecchi.
“Saya berdiam di pinggir lintasan dan berusaha mengambil napas, duduk bersama marshal yang membantu saya berdiri. Dari sana, saya bisa berjalan kaki sendiri ke ambulans, dan merasa bersyukur setelah kecelakaan semacam itu,” urai pria berambut kribo itu.
“Di pusat medis, hasil tes awal menunjukkan baik-baik saja. Tetapi, saya mengalami sakit yang teramat sangat di leher dan tim medis tidak ingin mengambil risiko, jadi mereka bawa saya ke rumah sakit di Groningen untuk tes yang lebih menyeluruh,” tutupnya.
(Wikanto Arungbudoyo)