Kisah Tai Tzu-ying, Mantan Ratu Bulutangkis Cantik Dunia Peraih Gelar Doktor

Dian AF, Jurnalis
Selasa 26 Mei 2026 19:05 WIB
Kisah Tai Tzu-ying Pebulutangkis Asal Taiwan (Foto: Instagram/@tai_tzuying)
Share :

KISAH unik pebulutangkis cantik asal Taiwan peraih gelar akademik doktor menarik untuk diulas. 
Nama Tai Tzu-ying sudah lama menjadi legenda di dunia bulu tangkis. Perempuan kelahiran Kaohsiung, Taiwan, itu bukan sekadar pebulu tangkis berbakat, ia adalah sosok yang membuktikan bahwa lapangan dan ruang kuliah bisa ditaklukkan sekaligus.

Yang membuat kisahnya benar-benar istimewa bukan hanya raket di tangannya, tapi juga toga yang pernah ia kenakan.

1. Ratu Bulu tangkis Dunia

Tzu-ying memulai perjalanannya menjadi yang terbaik sejak usia muda. Pada Desember 2016, di usia 22 tahun, ia pertama kali menduduki posisi peringkat 1 dunia BWF, suatu pencapaian yang tidak banyak pebulu tangkis dunia raih semuda itu. 

Berawal dari sana, gelar bergengsi terus ia kumpulkan. Ia merebut medali emas Asian Games 2018 di nomor tunggal putri, lalu medali perak Olimpiade Tokyo 2020. Tzu-ying juga pernah menjadi runner-up Kejuaraan Dunia 2021 dan meraih posisi tiga pada edisi 2022. Di level Asia, ia tiga kali keluar sebagai juara, yakni pada 2017, 2018, dan 2023. 

Tzu-ying total merebut 17 gelar juara hingga Agustus 2025. Beberapa titel paling bergengsi yang pernah singgah di tangannya antara lain All England, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals. 

2. Antara Raket dan Kuliah

Di sinilah kisah Tzu-ying menjadi benar-benar luar biasa. Di tengah padatnya jadwal kompetisi internasional, ia diam-diam mengejar gelar tertinggi di dunia akademik.

Mantan ratu bulu tangkis itu meraih gelar ketiganya di Indonesia Open 2022 saat dirinya  baru saja menyelesaikan pendidikan strata tiganya di Taipei University, jurusan ilmu keolahragaan, tepatnya pada 9 Juni, hanya beberapa hari sebelum Indonesia Open bergulir di Istora Gelora Bung Karno.

 

Membagi waktu antara latihan dan kuliah tentu bukan perkara mudah. Tzu-ying sendiri pernah bercerita blak-blakan soal perjuangan itu. Ia harus menyesuaikan jadwal dengan cara berbicara langsung kepada dosen agar bisa mengatur waktu konsultasi di sela-sela sesi latihan. 

Ia pun meminta kepada dosennya agar perkuliahan bisa dilakukan secara daring, yang dinilainya jauh lebih efisien mengingat padatnya agenda bertanding. Singkat cerita, dukungan penuh dari Taipei University menjadi kunci dalam mengatur beban studi di tengah jadwal latihan dan turnamen.

Ia menegaskan bahwa gelar itu sangat penting baginya, karena di Taiwan sendiri jarang ada atlet yang bisa mengambil kuliah S3 sambil tetap aktif bertanding di level internasional.

(Dian AF)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya