KISAH Ye Zhaoying, rival abadi Susy Susanti yang namanya dihapus dari lembaran sejarah China menarik untuk dibahas. Namun, di balik kegemilangannya di atas lapangan, perjalanan hidup legenda bulu tangkis China itu berakhir tragis di mata negaranya sendiri.
Ye Zhaoying yang dulu dipuja sebagai pahlawan, justru setelahnya dicap sebagai pengkhianat dan sosoknya seolah dilenyapkan dari catatan sejarah olahraga Negeri Tirai Bambu.
Lahir pada 7 Mei 1974, Ye Zhaoying tumbuh dengan bakat yang sulit ditandingi. Teknik permainannya yang cepat dan kecerdasan taktik di lapangan membuatnya meroket menjadi tunggal putri nomor satu dunia pada masanya.
Bagi publik bulu tangkis Indonesia, Ye adalah musuh bebuyutan sekaligus sahabat bersaing bagi Susy Susanti. Catatan pertemuan keduanya menjadi bukti betapa alotnya persaingan mereka.
Dari total 34 kali bentrokan di turnamen internasional, Ye Zhaoying berhasil mencuri 11 kemenangan dari tangan Susy. Meski rekor pertemuan masih didominasi Susy, kehadiran Ye selalu menjadi ancaman nyata yang memaksa sang legenda Indonesia bekerja ekstra keras.
Namun, kejayaan itu mulai runtuh bukan karena performa di lapangan, melainkan karena sebuah pengakuan jujur yang dianggap tabu oleh rezim negaranya.
Titik balik kehidupan Ye terjadi saat ia mengungkap tabir gelap di balik Olimpiade Sydney 2000. Ye mengaku bahwa dirinya dipaksa mengalah oleh sistem demi memuluskan langkah rekan senegaranya, Gong Zhichao, di babak semifinal.