NOC Indonesia Apresiasi IAG 2026, Bisa Jadi Pintu Atlet Diaspora ke Timnas

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Sabtu 07 Maret 2026 15:14 WIB
Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari mengapresiasi gelaran IAG 2026 (Foto: IAG 2026)
Share :

CHICAGO - Ketua Umum NOC Indonesia (Komite Olimpiade Indonesia/KOI), Raja Sapta Oktohari, mengapresiasi gelaran Indonesian-American Games 2026 (IAG 2026). Ajang multicabang itu disebutnya bisa jadi pintu atlet diaspora ke tim berbagai cabang olahraga (cabor) di Tanah Air.

IAG 2026 akan diselenggarakan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS), pada 19–21 Juni. Ajang ini dirancang sebagai event olahraga komunitas berskala nasional di Amerika Serikat yang mempertemukan masyarakat Indonesia lintas generasi, lintas wilayah, dan lintas latar belakang.

Delapan cabor akan dipertandingkan: bola basket, bola voli, mini soccer, bulu tangkis, tenis, pickleball, atletik, dan catur. Kompetisi dibagi dalam dua kategori usia, yakni Junior (15–17 tahun) dan Senior (18–35 tahun).

1. Bahasa Universal

Di balik gagasan besar ini berdiri Davon Arjunaidi, lahir 27 Juli 2015, lulusan SMAK 6 Penabur, dan kini mahasiswa di DePaul University. Sebagai founder IAG 2026, ia memandang olahraga sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas kebangsaan.

Baginya, IAG 2026 adalah bagian dari kontribusi nyata bagi negara. Tidak hanya menggagas dan membangun jaringan komunitas, Davon juga mengalokasikan sebagian dana beasiswa yang diperoleh dari kampus untuk membantu pembiayaan kegiatan ini.

“Saya ingin diaspora Indonesia di Amerika Serikat tidak berjalan sendiri-sendiri. Kita harus punya ruang bersama yang bisa memperkuat rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. IAG bukan hanya event, ini fondasi untuk masa depan,” ujar Davon.

Lebih jauh, Indonesian-American Games 2026 juga dirancang sebagai wadah talent scouting atau pencarian bakat atlet muda diaspora Indonesia, khususnya di bawah usia 17 tahun. Kategori Junior bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian strategis dari visi jangka panjang IAG.

Melalui sistem kompetisi yang terstruktur dan terstandar, IAG 2026 membuka peluang untuk memetakan potensi atlet-atlet muda Indonesia yang tumbuh dan berlatih di AS. Harapannya, ke depan akan terbangun jalur komunikasi dan kolaborasi dengan federasi olahraga di Tanah Air, sehingga talenta-talenta diaspora dapat dipertimbangkan untuk membela Tim Indonesia.

 

Dengan demikian, IAG 2026 tidak hanya menjadi ajang silaturahmi tetapi juga menjadi jembatan antara potensi diaspora dan kebutuhan pembinaan olahraga nasional. Generasi muda Indonesia di luar negeri diharapkan tidak kehilangan keterhubungan dengan tanah leluhurnya, melainkan justru menjadi bagian dari kekuatan Indonesia di panggung internasional.

2. Langkah Progresif

Dukungan dan apresiasi terhadap inisiatif ini datang dari Okto. Ia menilai IAG 2026 sebagai langkah progresif yang selaras dengan semangat Olympic Movement dalam membangun sportivitas, persatuan, dan pembinaan berkelanjutan.

“Inisiatif seperti Indonesian-American Games menunjukkan bahwa semangat olahraga Indonesia tidak mengenal batas geografis,” kata Okto.

“Upaya membangun platform kompetisi diaspora sekaligus membuka ruang pencarian bakat adalah langkah visioner. Kami mengapresiasi gagasan ini dan berharap IAG 2026 dapat menjadi inspirasi serta memperkuat ekosistem olahraga Indonesia secara global,” imbuhnya.

Penyelenggaraan IAG 2026 akan dipusatkan di Dr. Conrad Worrill Track & Field Center untuk seremoni pembukaan dan penutupan, serta didukung fasilitas olahraga lain di Chicago. Seluruh tata kelola mengedepankan prinsip profesionalisme, transparansi, akuntabilitas, serta keselamatan peserta.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya