PERSAINGAN ketat di jagat bulu tangkis Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi. Status sebagai negara raksasa tepok bulu membuat stok talenta melimpah, namun ruang untuk bersaing di level internasional sering kali menjadi sempit.
Kondisi ini mendorong sejumlah atlet berbakat untuk mencari peruntungan di luar negeri demi menjaga asa prestasi mereka. Menariknya, para atlet ini masih aktif berkompetisi dan mampu berbicara banyak di turnamen dunia.
Kepindahan Pramudya menjadi salah satu yang paling mengejutkan di akhir 2023. Mantan pasangan Yeremia Rambitan ini memilih mundur dari Pelatnas PBSI demi melanjutkan studi dan berkarier di Australia.
Pada awal kepindahan ke Australia, Pramudya menjadi pemain serbabisa yang turun di nomor ganda putra bersama eks pemain Indonesia lainnya, Andika Ramadiansyah, serta menjajal ganda campuran.
Yang paling mencuri perhatian, Pramudya berduet dengan sosok yang dijuluki bidadari bulu tangkis Australia, Gronya Somerville. Kombinasi skill mumpuni Pramudya dan pengalaman Gronya dinilai memiliki potensi besar untuk menggebrak papan atas ganda campuran internasional di masa mendatang.
Hanya saja, pasangan itu hanya bertahan di 2024. Pada 2025, Pramudya fokus bermain di ganda putra bersama Jack Yu.
Selama di 2025, Pramudya/Jack Yu sukses merebut gelar juara di ajang Guatemala International Series 2025 dan VII El Savador International 2025. Untuk 2026 ini, Pramudya belum tampil di kompetisi mana pun.
Ade Resky adalah bukti nyata bahwa talenta Indonesia sangat diperhitungkan di Eropa Timur. Sulitnya menembus dominasi tunggal putra di Tanah Air membuatnya mantap pindah ke Azerbaijan pada 2017.
Keputusannya terbukti jitu demi mengejar mimpi tertinggi atlet dunia, yakni Olimpiade. Di bawah bendera Azerbaijan, Ade Resky berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu kontestan di nomor tunggal putra pada Olimpiade Tokyo 2020.
Pada 2025, pencapaian terbaik Ade Resky adalah menjadi runner-up di Bonn International 2025.
Selain Ade Resky, ada Keisha Fatimah Azzahra juga memilih Azerbaijan. Gadis kelahiran Pekanbaru, 12 Agustus 2003, ini pernah menunjukkan potensi besar dengan meraih posisi runner-up di Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI 2022.
Sayangnya, PBSI hanya mengambil juara pertama. Setelah itu, Keisha menerima tawaran Azerbaijan demi mengejar mimpinya tampil di panggung dunia. Sejak bergabung, ia telah menorehkan beberapa hasil apik, seperti runner-up Iran Fajr International Challenge 2025.
(Rivan Nasri Rachman)