Kisah Roller Coaster Muhammad Shohibul Fikri Berduet dengan Bagas Maulana: Juara All England 2022 Berikan Pengalaman Menantang

Bagas Abdiel, Jurnalis
Sabtu 11 November 2023 17:32 WIB
Ganda Putra Indonesia, Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri. (Foto: PBSI)
Share :

KISAH roller coaster Muhammad Shohibul Fikri berduet dengan Bagas Maulana dapat Anda ketahui di artikel ini. Fikri mengaku perjalanannya bersama Bagas tidaklah mudah, apalagi setelah menjuarai All England 2022, ia merasakan pengalaman baru yang menantang dan membuat duetnya dengan Bagas pun menghadapi berbagai hal, baik itu hal yang baik dan buruk.

Nama Bagas/Fikri sendiri memang sempat melambung pada 2022 setelah secara mengejutkan mereka menjuarai All England pada tahun itu. Akhir tahun ini, mereka kembali menjadi sorotan usai dua kali tampil ke final Denmark Open dan French Open 2023 secara beruntun.

Banyak hal pun sudah dilalui Bagas/Fikri sejak berpasangan pada 2018. Fikri yang kala itu masih berstatus magang pada 2018 dan baru menetas dari junior pada 2017, langsung mendapat tantangan berduet dengan Bagas yang usianya setahun lebih tua darinya. Ditambah keduanya saat itu belum mengenal satu sama lain.

“Waktu awal dipartnerin itu saya sempat ditanya mau enggak sama Bagas. Ya saya bilang mau dong, siapa yang enggak mau kan, dipartnerin sama yang udah di Pelatnas gitu. Cuma saya balikin lagi, Bagas sendiri mau enggak sama saya. Kata pelatih, ya Bagas juga mau katanya,” ungkap Fikri dalam wawancara eksklusif bersama MNC Portal Indonesia di Pelatnas PBSI Cipayung.

“Ya awalnya masih sungkan-sungkan juga, kayak kagok gitu kan. Belum terlalu kenal juga saya sama Bagas. Ya, saya cuma sekedar tahu doang, tapi enggak kenal. Saat itu kita harus bisa adaptasi. Saya kan lebih muda, dia lebih senior ya, jadi saya lebih banyak ngalah. Tapi untungnya, dia baik juga, enggak selalu saya ngalah, dia ngerti juga, bisa mengalah,” kata Fikri.

Meski begitu, tidak membutuhkan waktu lama bagi Fikri dalam beradaptasi dengan Bagas. Walau pada akhirnya Bagas bukanlah sosok teman dekat di lapangan, tetapi pemain berusia 23 tahun itu tetap bisa nyetel di dalam lapangan bersama sang senior.

“Yang dirasa sih, enggak begitu susah sih membangun chemistry, enggak begitu lama. Latihan kan sudah bareng terus, jadi pas pertandingan juga udah bisa klop. Walaupun di luar lapangan, kita enggak deket-deket banget, ya sekedar temen yang enggak jauh banget juga, tapi tetap bisa pas,” tutur pemain asal Bandung tersebut.

Setahun berpasangan, Bagas/Fikri akhirnya mulai memetik hasil pada 2019. Keduanya sukses menjuarai Hyderabad Open 2019 (Super 100) dan Finlandia Open 2019 (International Series). Pada tahun itu pula Fikri sudah mendapatkan SK (Surat Keputusan) menjadi penghuni tetap di Pelatnas PBSI.

Tetapi setelah itu, perjalanan tidak mudah harus dilalui Bagas/Fikri. Selama dua tahun mereka nihil lgelar ditambah situasi pandemi Covid-19 membuat pasangan berjuluk Bakri itu seakan stagnan.

Belum lagi, muncul dua pasangan baru dari junior yakni Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan yang sempat menggoyahkan posisi mereka. Bahkan bisa dikatakan, Bagas/Fikri mulai tersalip dengan dua pasangan juniornya itu.

“Saat itu kita merasa terancam juga. Dibanding Pram/Yere sama Leo/Daniel, dari pratama yang pertama kali naik ke utama tuh, saya sama Bagas. Kami posisinya masih di atas mereka lah. Tapi setelah bertahan kurang dari setahun, kami terkejar. Mereka lebih bagus prestasinya dari kita. Ya di situ kayak terancam juga, ada deg-degan ‘wah bahaya nih, bisa degradasi nih’. Tapi ya udah kita tetap semangat aja dan mencoba mengejar,” kenang Fikri.

Namun, seakan mendapat durian runtuh. Setelah mengalami fase sulit pada 2020 dan 2021 tersebut, pada Maret 2022, mereka akhirnya kembali menjadi juara. Bahkan tidak tanggung-tanggung mereka malah bisa meraih gelar yang sangat bergengsi yakni All England.

“Itu juga kita dan orang-orang enggak nyangka kita bisa juara All England. Padahal saya juga main ya kayak biasa aja, semangat aja, kasih yang terbaik aja gitu. Tapi ya mungkin namanya rejeki, akhirnya kita bisa juara,” jelas Fikri.

Akan tetapi, melalui gelar All England itulah Bagas/Fikri mulai menghadapi fase roller coaster. Banyaknya tekanan dan sorotan justru membuat mereka sulit untuk bertahan. Butuh kurang lebih selama satu tahun untuk mereka bisa mencerna situasi tersebut.

“Sebelum All England ya kita merasa biasa saja, karena enggak banyak yang menyorot ke kita. Jadi mau kita menang di babak berapa, kalah di babak berapa, tuh kayaknya enggak terlalu masalah. Tapi setelah juara All England itu rasanya berbeda. Selepas juara All England itu kan, kami makin turun. Banyak yang kritik gimana-gimana, banyak yang kurang enak untuk dibaca,” kata Fikri.

“Tapi kalau ngerasa juara All England itu kecepetan, enggak tau juga ya, karena kan kalau misalkan enggak juara waktu itu pun, tahun depan-tahun depannya belum tentu juara juga saya. Makanya disyukuri juga sih, Alhamdulillah,” lanjut pemain kelahiran 16 November 1999 tersebut.

Momen terberat pun akhirnya dirasakan Fikri pada tahun ini ketika mereka mengalami fase naik turun. Juni dan Juli 2023 pun menjadi titik terendah bagi Fikri ketika keduanya langsung kalah pada babak pertama di Indonesia Open dan Korea Open.

Bahkan rasa pesimis pun sempat muncul dalam benak Fikri dalam mengejar poin Olimpiade Paris 2024 yang saat itu sudah dimulai sejak Mei 2023. Namun, Fikri tidak ingin pikiran negatif itu terus menghantui dirinya dan Bagas.

“Ketika prestasi menurun itu, kita kayak lihat poin Olimpiade, poin World Tour Finals, kita itu ada di paling bawah, pokoknya paling bawah di antara wakil Indonesia lainnya,” ujar Fikri.

“Tapi setelah melihat hasil kemarin, mulai dari Kejuaraan Dunia, Hong Kong Open, China Open, agak lumayan nih pas lihat poinnya. Ditambah setelah hasil final di Denmark dan Prancis, jadi ngobrol lagi berdua sama Bagas, wah masih ada nih kesempatan. Pelatih juga bilang ‘nih sekarang malah kalian yang lebih dekat bisa masuk ke Olimpiade sama World Tour Finals, semangat lagi ya’,” sambungnya.

Tercatat, pada tahun ini, mereka sudah empat kali sukses menembus final di ajang BWF World Tour. Selain Denmark Open dan French Open, Bagas/Fikri juga tampil di final Orleans Masters dan Thailand Open 2023. Keempatnya pun harus keluar sebagai runner-up.

Meski begitu, Bagas/Fikri bisa dikatakan sukses keluar dari masa terpuruk. Kini mereka justru mendekati sang senior, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto untuk tampil di dua turnamen bergengsi yakni BWF World Tour Finals dan Olimpiade Paris 2024. Per 7 November 2023, mereka ada di peringkat 10 dunia, ranking 7 di race BWF World Tour Finals, dan urutan ke-10 dalam race to Olympic Paris 2024.

“Hasil ini membuat kami senang dan semangat sih, wah ternyata masih bisa nih, masih panjang. Kalau World Tour Finals kan deket lagi, cuma buat ke Olimpiade masih ada waktu panjang, masih bisa, tinggal percaya dirinya aja, yakinnya aja, lebih yakin lagi. Ya semoga bisa lolos, karena masuk ke Olimpiade aja tuh udah bangga, karena untuk bisa main di Olimpiade itu susah,” tutup Fikri.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya