Tetapi setelah itu, perjalanan tidak mudah harus dilalui Bagas/Fikri. Selama dua tahun mereka nihil lgelar ditambah situasi pandemi Covid-19 membuat pasangan berjuluk Bakri itu seakan stagnan.
Belum lagi, muncul dua pasangan baru dari junior yakni Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan yang sempat menggoyahkan posisi mereka. Bahkan bisa dikatakan, Bagas/Fikri mulai tersalip dengan dua pasangan juniornya itu.
“Saat itu kita merasa terancam juga. Dibanding Pram/Yere sama Leo/Daniel, dari pratama yang pertama kali naik ke utama tuh, saya sama Bagas. Kami posisinya masih di atas mereka lah. Tapi setelah bertahan kurang dari setahun, kami terkejar. Mereka lebih bagus prestasinya dari kita. Ya di situ kayak terancam juga, ada deg-degan ‘wah bahaya nih, bisa degradasi nih’. Tapi ya udah kita tetap semangat aja dan mencoba mengejar,” kenang Fikri.
Namun, seakan mendapat durian runtuh. Setelah mengalami fase sulit pada 2020 dan 2021 tersebut, pada Maret 2022, mereka akhirnya kembali menjadi juara. Bahkan tidak tanggung-tanggung mereka malah bisa meraih gelar yang sangat bergengsi yakni All England.
“Itu juga kita dan orang-orang enggak nyangka kita bisa juara All England. Padahal saya juga main ya kayak biasa aja, semangat aja, kasih yang terbaik aja gitu. Tapi ya mungkin namanya rejeki, akhirnya kita bisa juara,” jelas Fikri.
Akan tetapi, melalui gelar All England itulah Bagas/Fikri mulai menghadapi fase roller coaster. Banyaknya tekanan dan sorotan justru membuat mereka sulit untuk bertahan. Butuh kurang lebih selama satu tahun untuk mereka bisa mencerna situasi tersebut.
“Sebelum All England ya kita merasa biasa saja, karena enggak banyak yang menyorot ke kita. Jadi mau kita menang di babak berapa, kalah di babak berapa, tuh kayaknya enggak terlalu masalah. Tapi setelah juara All England itu rasanya berbeda. Selepas juara All England itu kan, kami makin turun. Banyak yang kritik gimana-gimana, banyak yang kurang enak untuk dibaca,” kata Fikri.