Bagi Marquez, kehebatannya di MotoGP 2019 tidak terjadi semata-mata karena gaya balapannya serta kuatnya motor RC21V, tapi juga berkat sumbangsih Puig yang selalu menargetkan hal tinggi untuknya. Bahkan ketika Marquez sudah resmi menjadi juara dunia MotoGP, ia merasa Puig selalu menekannya untuk selalu menang disetiap balapan.
Berkat tekanan yang diberikan Puig itu, Marquez semakin terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Ajaran Puig itu benar-benar berbuahkan hasil, di mana Marquez mampu memenangkan 12 balapan dari 19 seri yang dilakoni di MotoGP 2019.
“Tentu saja para lawan menunggu saya untuk melihat saya melakukan beberapa kesalahan, tetapi saya bangga dengan tim saya dan orang-orang di sekitar saya memiliki mental yang sama. Terutama Alberto (Puig), yang banyak mendorong sebagai manajer tim. Bahkan ketika saya memimpin kejuaraan dengan 80 poin, dia tetap menekan saya,” terang Marquez, seperti diwartakan Crash, Minggu (24/11/2019).
“Di balapan terakhir dia mengeluh kepada saya bahwa saya harus fokus (setelah insiden di FP4). Itu adalah cara terbaik untuk seorang pembalap. Tentu saja Anda perlu menjaga tekanan dan saya juga benci ketika seseorang mengalahkan saya,” tuntasnya.
(Rivan Nasri Rachman)