BANDUNG- Anggaran murni APBD Jabar 2012 untuk KONI Jawa Barat untuk persiapan dan pelaksanaan PON XVIII sebesar Rp90 miliar, dari pengajuan sebesar Rp161,8 miliar.
Dibandingkan dengan anggaran untuk PON XVII/2008, anggaran KONI Jabar mengalami kenaikan Rp17 miliar, namun angka itu tidak sepadan dengan peningkatan anggaran daerah lainnya, terutama menjelang PON.
"Anggaran terbesar saat ini untuk Pelatda Sentralisasi, biayanya cukup besar. KONI Jabar melakukan efesiensi program, namun tidak mengurangi anggaran pembinaan atlet," kata Sekretaris Umum KONI Jabar, Lili Rolina.
Menurutnya, KONI Jawa Barat tidak akan mengendurkan target "Tiga Besar" pada PON XVIII/2012 di Riau, meski hanya mendapat anggaran sebesar Rp90 miliar.
"Anggaran murni APBD Jabar 2012 untuk KONI Jabar sebesar Rp90 miliar, jauh di bawah pengajuan sebesar Rp161,8 miliar. Namun tidak akan banting stir target PON dan tetap optimis minimal 'Tiga Besar'," ujar Lili.
Lili mengaku, anggaran dana 90 miliar yang diberikan Pemprov Jabar tersebut digunakan untuk pembinaan prestasi, Pelatda, pengiriman atlet pemusatan latihan keluar negeti, mendatangkan pelatih asal Korea. Pelaksanan pon, peerlengkapan pertandingan.
“Memang kami tidak memberikan 100 persen apa yang dibutuhkan para atlet atau pelatih. Karena keterbatasan anggaran yang jauh dibanding dengan provinsi lain,”katanya.
Termasuk pembangunan venues dan fasilitas sentralisai atlet. Karena menurut Lili, kalau menyewa akan keluar dana lebih besar dan tidak ada bekasnya. Lain hal dengan membangun sendri, dana yang dikeluarkan tidak jauh beda namun hasilnya akan dirasakan selamanya dan untuk pembinaan – pembinaan selanjutnya.
Menurut Lili, KONI Jabar akan memprioritaskan apa yang lebih penting dari apa yang sudah diajukan Pengda masing-masing cabor. Pihaknya akan berupaya memenuhi kebutuhan Cabor yang paling krusial. Karena dana tersebut harus berbagi-bagi.
Namun demikian, dengan anggaran di bawah pengajuan itu, program latihan tentu akan disesuaikan, terutama dalam program uji tanding ke luar negeri.
"Tadinya dengan pengajuan sekitar Rp161,8 miliar, bisa mengirimkan atlet beruji tanding ke luar negeri lebih banyak, namun dengan anggaran tersebut tentu akan disesuaikan lagi. Bila tadinya bisa dikirim berlatih ke Malaysia, Pilifina, vietnam atau China," ungkap Lili.
Sebagai bahan perbandingan, kata Lili, anggaran daerah lainnya yang lebih besar antara lain Jatim Rp200 miliar, Sumsel Rp212 miliar, Riau Rp250 miliar, Kaltim Rp214 miliar dan Jakarta Rp322 miliar. "Dengan anggaran sebesar itu, mereka sama-sama mengejar terget satu sampai tiga besar," katanya.
Untuk mensiasati keterbatasan dana tersebut,salah satu upaya memaksimalkan anggaran tersebut yaitu dengan memangkas program-program yang tidak terkait langsung dengan persiapan PON seperti acara-acara ceremnonial, seminar atau workshops dan sejenisnya.
"Anggaran itu kami fokuskan untuk pembinaaan dari mulai persiapan sampai pelaksanaan PON 2012, kami tidak memperbanyak seminar atau workshops. Yang jelas anggaran untuk atlet dan pembinaan menjadi prioritas," ungkap Lili.
Untuk kesiapan anggaran sentralisasi sudah secara teratur dipersiapkan. Namun pihak KONI masih menunggu koordinasi dari Pengda cabornya masing-masing untuk menggelar sentralisasi. Lalu setelah itu ada pemantauan dan klarifikasi oleh Satlak.
Untuk cabor yang sebelumnya masih mengikuti kegiatan-kegiatan kejuaraan. Dan sekarang sudah tidak ada jadwal kegiatan, diharapkan para pengurus dengan segera datang ke KONI dan mengkoordinasikan segala sesuatu kebutuhan untuk sentralisasi.
“Sistem yang dipakai KONI untuk pengeluaran dana cabor yaitu pengajuan selama dua minggu sekali sesuai dengan kehadiran para atlet yang iktu sentralisasi,” tegas Lili.
Dana sentralisasi tidak langsung diberikan sekaligus untuk memudahkan Pengda dan administrasi KONI supaya rapih dan tidak tercecer. Diharapkan pada bulan Juni semua cabor yang masih main bersama klubnya masing-masing untuk segera menggelar sentralisasi mempersiapkan PON XVIII di Riau.
(A. Firdaus)