Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Christian Hadinata, Berawal dari Lapangan Tanpa Alas Kaki hingga Jadi Legenda Bulu Tangkis Dunia

Rivan Nasri Rachman , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |18:42 WIB
Kisah Christian Hadinata, Berawal dari Lapangan Tanpa Alas Kaki hingga Jadi Legenda Bulu Tangkis Dunia
Legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata. (Foto: PB Djarum)
A
A
A

KISAH Christian Hadinata, atlet bulu tangkis Indonesia yang mengawali karier di lapangan tanpa alas kaki hingg kini jadi legenda badminton dunia jelas menarik untuk dibahas.

Lahir di Purwokerto pada 11 Desember 1949, Christian Hadinata tumbuh sebagai anak bungsu dari pasangan Timotius Hadinata dan Aer Nio yang menyukai berbagai cabang olahraga. Masa kecilnya diwarnai dengan kegemaran bermain sepak bola sebelum akhirnya minatnya bergeser ke dunia tepok bulu saat ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.

Ketertarikan tersebut bermula dari kebiasaannya membaca berita keberhasilan para pebulu tangkis pendahulu yang sukses merebut Piala Thomas bagi Indonesia. Dari sana, ia menyadari bahwa bulu tangkis merupakan panggung strategis di mana bangsa Indonesia mampu bersaing secara terhormat di kancah internasional.

Namun, keterbatasan ekonomi membuat impian masa mudanya tidak mudah diwujudkan karena mahalnya harga perlengkapan seperti raket, kok, dan sepatu. Beruntung ia memiliki sahabat setia bernama Wie Wie Kian yang kerap meminjamkan peralatan serta membelikan kok, meski Christian harus rela bermain tanpa mengenakan alas kaki.

Titik balik kehidupannya terjadi selepas lulus SMA ketika ia berlibur ke Bandung dan diminta sang kakak untuk menetap serta menekuni bulu tangkis secara serius. Keputusan tersebut membawanya berkuliah di STO Bandung, bergabung dengan klub Mutiara Bandung, hingga akhirnya sukses menembus Pelatnas PBSI usai meraih juara nasional ganda bersama Atik Jauhari.

Christian Hadinata. (Foto: PB Djarum)
Christian Hadinata. (Foto: PB Djarum)

1. Jejak Prestasi

Takdir besar menghampirinya ketika ia dipasangkan dengan Ade Chandra menyusul cedera mata yang dialami Atik Jauhari sebelumnya. Duet maut ini mencatatkan sejarah baru dengan keluar sebagai ganda putra Indonesia pertama yang menjuarai ajang bergengsi All England pada tahun 1972.

Meski dikenal luas sebagai pemain spesialis ganda, Christian memiliki kemampuan teknik yang sangat komplet dan luar biasa. Fleksibilitas ini dibuktikannya saat turun di nomor tunggal putra All England 1973 dan sukses menjadi runner-up usai bertarung sengit melawan rekan senegaranya sendiri, Rudy Hartono.

 

Puncak ketangguhannya terukir pada Kejuaraan Dunia 1980 di Jakarta ketika ia berhasil menyabet dua gelar juara sekaligus di tengah kecemasan menanti persalinan istrinya. Ketenangan mental dan kemampuan adaptasinya yang cepat membuat ia selalu mampu menyatu dengan siapa saja pasangan bermainnya di lapangan.

2. Dedikasi Tanpa Batas untuk Regenerasi Atlet

Kunci konsistensi permainan Christian terletak pada kecerdasannya dalam memahami karakter partner serta kesediaannya untuk saling mengalah demi kepentingan tim. Sikap kepemimpinan ini ia terapkan saat berpasangan dengan banyak pemain lintas generasi, mulai dari Icuk Sugiarto, Ivana Lie, hingga Lius Pongoh.

Christian Hadinata PB Djarum
Christian Hadinata PB Djarum

Setelah resmi menutup lembaran karier internasionalnya melalui gelar juara di US Open 1988, ia memilih mengabdikan diri di klub PB Djarum. Di sana, ia aktif melatih dan mendirikan pusat pelatihan khusus ganda demi melahirkan bibit-bibit unggul baru bagi bulu tangkis Indonesia.

(Rivan Nasri Rachman)

Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement