KISAH unik pebulutangkis cantik asal Taiwan peraih gelar akademik doktor menarik untuk diulas.
Nama Tai Tzu-ying sudah lama menjadi legenda di dunia bulu tangkis. Perempuan kelahiran Kaohsiung, Taiwan, itu bukan sekadar pebulu tangkis berbakat, ia adalah sosok yang membuktikan bahwa lapangan dan ruang kuliah bisa ditaklukkan sekaligus.
Yang membuat kisahnya benar-benar istimewa bukan hanya raket di tangannya, tapi juga toga yang pernah ia kenakan.

Tzu-ying memulai perjalanannya menjadi yang terbaik sejak usia muda. Pada Desember 2016, di usia 22 tahun, ia pertama kali menduduki posisi peringkat 1 dunia BWF, suatu pencapaian yang tidak banyak pebulu tangkis dunia raih semuda itu.
Berawal dari sana, gelar bergengsi terus ia kumpulkan. Ia merebut medali emas Asian Games 2018 di nomor tunggal putri, lalu medali perak Olimpiade Tokyo 2020. Tzu-ying juga pernah menjadi runner-up Kejuaraan Dunia 2021 dan meraih posisi tiga pada edisi 2022. Di level Asia, ia tiga kali keluar sebagai juara, yakni pada 2017, 2018, dan 2023.
Tzu-ying total merebut 17 gelar juara hingga Agustus 2025. Beberapa titel paling bergengsi yang pernah singgah di tangannya antara lain All England, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals.
Di sinilah kisah Tzu-ying menjadi benar-benar luar biasa. Di tengah padatnya jadwal kompetisi internasional, ia diam-diam mengejar gelar tertinggi di dunia akademik.
Mantan ratu bulu tangkis itu meraih gelar ketiganya di Indonesia Open 2022 saat dirinya baru saja menyelesaikan pendidikan strata tiganya di Taipei University, jurusan ilmu keolahragaan, tepatnya pada 9 Juni, hanya beberapa hari sebelum Indonesia Open bergulir di Istora Gelora Bung Karno.