RIO DE JANEIRO – Pembalap Tim Pertamina Enduro VR46, Fabio Di Giannantonio akhirnya mengetahui titik lemah motor Desmosedici GP26 di awal MotoGP 2026. Gara-gara masalah tersebut, ia pun merasa Ducati cukup kesulitan menghadapi persaingan dengan motor-motor Aprilia.
Era dominasi absolut Ducati di MotoGP kini menghadapi tantangan serius dari pabrikan Noale. Meski Ducati telah mengamankan takhta juara dunia sejak 2022, tren mulai bergeser sejak akhir musim lalu.
Aprilia, melalui performa impresif Marco Bezzecchi dan kawan-kawan, secara konsisten mulai mengasapi motor-motor Borgo Panigale. Kemenangan Raul Fernandez di Australia Oktober lalu seolah menjadi pembuka keran kesuksesan Aprilia yang kini telah memenangkan lima dari enam balapan terakhir.
Marco Bezzecchi pun kukuh di puncak klasemen sementara setelah menyapu bersih empat kemenangan beruntun, termasuk di MotoGP Brasil 2026 pada akhir pekan lalu.
Fabio Di Giannantonio, yang kini menjadi tumpuan utama Ducati di klasemen, memberikan analisis mendalam mengenai apa yang membuat RS-GP milik Aprilia begitu tangguh. Menurut pembalap VR46 tersebut, perbedaan mencolok terlihat saat kondisi trek mulai memanas dan tingkat cengkeraman menurun.
Pada Sprint Race di Brasil, Ducati memang sempat mendominasi melalui Marc Marquez. Namun, situasi berbalik 180 derajat pada balapan utama hari Minggu. Aprilia sukses mencetak finis 1-2 pertama mereka sejak Catalunya 2023.
Diggia –sapaan akrab Di Giannantonio– menyebutkan bahwa stabilitas bagian depan adalah kunci utama rivalnya tersebut. Ia pun mengakui mencoba menyamai kecepatan masuk tikungan Aprilia justru membuat motor Ducati miliknya menjadi tidak stabil dan kehilangan presisi.
"Saat kondisi panas dan licin, mereka tetap bisa menekan bagian depan dan masuk ke tikungan dengan kecepatan tinggi," ungkap Di Giannantonio, melansir dari Crash, Jumat (27/3/2026).