PENYEBAB Suzuka 8 Jam jadi ajang balapan motor paling penting di dunia akan diulas di sini. Berbicara tentang balapan motor, tentu akan langsung terlintas tentang MotoGP.
Ya, MotoGP memang sebuah ajang balap motor paling terkemuka di dunia. Akan tetapi, meski jadi balapan yang sangat populer, MotoGP ternyata bukanlah balapan yang paling penting.

Faktanya, balapan paling penting di dunia adalah Suzuka 8 Hours atau Suzuka 8 Jam. Ini merupakan sebuah balapan yang dilangsungkan di Sirkuit Suzuka milik Honda selama 8 jam lamanya.
Ajang Suzuka 8 Hours pertama kali digelar pada 30 Juli 1978. Pada masa itu, Mike Baldwin dan Wes Cooley dari tim Yoshimura Racing Suzuki menjadi pemenangnya.
Tidak seperti MotoGP yang hanya mengedepankan hasil siapa yang paling cepat dan finis lebih dulu, Suzuka 8 Hours menjadi ajang untuk para teknisi motor pamer hasil kerja kerasnya dalam berbagai aspek. Tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga juga tentang ketahanan mesin.
Sirkuit Suzuka sebagai lintasan yang digunakan di ajang ini dikenal sebagai trek yang sangat sulit jika dibandingkan dengan sirkuit lain di seluruh dunia. Agar melewati balapan 8 jam, teknisi harus berupaya menyeting motornya demi melaju dengan kecepatan maksimum dalam kurun waktu selama 8 jam.
Menariknya lagi, ajang Suzuka 8 Hours ini selalu digelar pada Juli di mana Jepang mencapai temperatur paling panas. Suhu rata-rata di Jepang pada bulan itu dapat mencapai 30°C dengan kelembaban yang sangat sulit untuk pembalap Eropa.
Dengan semua alasan itu, tak ayal ajang Suzuka 8 Hours dianggap sebagai balapan yang paling penting di dunia. Utamanya, balapan ini jadi penting bagi para teknisi dari 4 pabrikan raksasa Jepang, yakni Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Suzuki.

Lebih dari itu, Suzuka 8 Hours juga menyimpan sebuah fakta menarik di mana pembalap tersohor di MotoGP tidak selalu bisa memenangkan ajang ini. Bahkan, lebih banyak pembalap kurang terkenal yang memenangkannya.
Tercatat, hanya ada beberapa nama pembalap terkenal yang pernah memenangkannya. Di antaranya, Wayne Rainey (1988), Eddie Lawson (1990), Mick Doohan (1991) dan Valentino Rossi (2001).
(Djanti Virantika)