Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Victo Wibowo, Pelatih Indonesia yang Melatih di Chinese Taipei dan Sukses Lahirkan Juara Olimpiade

Andika Rachmansyah , Jurnalis-Rabu, 20 Juli 2022 |15:14 WIB
Kisah Victo Wibowo, Pelatih Indonesia yang Melatih di Chinese Taipei dan Sukses Lahirkan Juara Olimpiade
Kisah Victo Wibowo, pelatih bulu tangkis Indonesia yang sukses berkarier di Chinese Taipei. (Foto: Twitter/@rudyrudianto)
A
A
A

KISAH Victo Wibowo, pelatih bulu tangkis Indonesia menarik untuk dikulik. Sebab, Victo Wibowo berhasil membawa pebulu tangkis Chinese Taipei berjaya. Lewat tangan dinginnya, dia bahkan membawa ganda putra Chinese Taipei, Lee Yang/Wang Chi Lin, meraih medali emas Olimpide.

Ya, Chinese Taipei berhasil mendulang berbagai prestasi di dunia bulu tangkis, salah satunya di Olimpiade Tokyo 2020. Mereka meraih kesuksesan dengan merebut medali emas pertama di bulu tangkis melalui pasangan Lee Yang/Wang Chi Lin.

Lee Yang/Wang Chi Lin

Tak hanya itu, Chinese Taipei juga mendapat medali perak dari Tai Tzu Ying di sektor tunggal putri. Seperti kita tahu, saat ini Tai Tzu Ying sedang berada di urutan dua dunia.

Namun, mungkin tak banyak yang tahu, ada campur tangan Victo yang merupakan pelatih asal Indonesia di balik kesuksesan Chinese Taipei. Dia merupakan pelatih jebolan PB Djarum yang aktif bermain pada 1993 hingga 1998.

Victo hijrah ke Chinese Taipei untuk belajar sambil berkarier sebagai pemain bulu tangkis. Seiring berjalannya waktu, dia kemudian dipercaya untuk mengembangkan bulu tangkis di Keelung High School.

BACA JUGA: Biodata dan Agama Lee Yang, Pebulu Tangkis Ganda Putra Andalan Taiwan

“Kira-kira tahun 2002, saya mulai ke Keelung High School. Kebetulan mereka waktu itu sebetulnya belum ada ekstrakurikuler badminton. Tapi, saya merasa sarananya, ada lapangan bulu tangkis. Tapi, yang lainnya masih kurang,” kata Victo, dikutip dari kanal YouTube PB Djarum, Rabu (20/7/2022).

BACA JUGA: Aksi Lee Yang/Wang Chi Lin Acungkan Jempol kepada Pramudya/Yeremia di Indonesia Open 2022, Tuai Pujian Netizen

Berbeda dengan sistem kepelatihan di Indonesia, perjuangan Victo dimulai dengan mencari atlet sendiri. Sebab, sekolah saat itu hanya menyediakan sarana latihan saja.

“Mulanya saya mulai delapan pemain. Karena waktu itu sekolah saya masih belum ada nama, masih belum ada yang mau datang. Tapi karena mungkin saya lebih berusaha mendekati orangtuanya. Kalau saya lihat pemain yang ada bakat, saya catet-catetin satu-satu. Namanya siapa, dari umur 13 tahun, setiap pertandingan saya datangi,” ungkapnya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement