Share

Kenal Lebih Dekat dengan Pramudya/Yeremia, Pasangan Ganda Putra Indonesia yang Menjanjikan

Bagas Abdiel, Jurnalis · Jum'at 10 Desember 2021 13:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 10 40 2514985 kenal-lebih-dekat-dengan-pramudya-yeremia-pasangan-ganda-putra-indonesia-yang-menjanjikan-INauXFhQu5.jpg Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. (Foto: Bagas Abdiel/MPI)

PRAMUDYA Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan namanya menjadi sering terdengar semenjak tampil luar biasa di tiga turnamen yang berlangsung di Indonesia Badminton Festival 2021. Pasangan yang tampil di sektor ganda putra itu digadang-gadang sebagai kandidat kuat penerus para seniornya seperti Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo atau Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, serta Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Pasangan yang selalu berapi-api di setiap laganya ini menjadi harapan untuk melanjutkan generasi ganda putra Indonesia di masa depan. Dari segi usia, keduanya pun terbilang masih sangat muda. Pramudya berumur 20 tahun, dan Yeremia dua tahun lebih tua.

Namun, sebelum ada di Indonesia Badminton Festival 2021, ganda putra muda Indonesia ini pun tidak begitu diperhitungkan. Mereka masih kalah dengan nama-nama seperti Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang lebih senior. Begitu pun dengan pasangan-pasangan seangkatannya seperti Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri.

Baca Juga: Hasil BWF World Tour Finals 2021: Pramudya/Yeremia Tutup Perjuangan dengan Kemenangan

Pramudya/Yeremia (Humas PP PBSI)

Tetapi, siapa yang menyangka, Pramudya/Yeremia justru tampil bersinar mendampingi sang peringkat satu dunia yakni Marcus/Kevin di Indonesia Badminton Festival 2021. Tak hanya tampil di Indonesia Masters dan Indonesia Open, Pramudya/Yeremia pun sukses menembus ajang BWF World Tour Finals 2021 yang berisi delapan pasangan terbaik. Hal ini pun sempat membuat kaget pelatih ganda putra Indonesia yakni Herry Iman Pierngadi kaget.

"Pramudya/Yeremia, buat saya mereka bisa masuk di World Tour Final tahun ini merupakan kejutan. Karena ini pemain pelapis, tetapi bisa masuk," ungkap Herry IP.

Bahkan di Indonesia Masters dan Indonesia Open 2021, banyak pebulu tangkis top dunia memberikan acungan jempol kepada Pramudya/Yeremia. Sebut saja seperti dua pasangan finalis di tiga turnamen Indonesia Badminton Festival 2021 yakni Marcus/Kevin dan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

“Pas pertama kali lawan Pramudya/Yeremia ‘wih gila ini pasangan muda yang benar-benar berapi-api’,” ucap Hoki saat menghadapi Pramudya/Yeremia di babak 16 besar Indonesia Open 2021.

“Yang pasti saya berterima kasih kepada Pram/Yere (karena bermain bagus) membuat saya lebih semangat,” ungkap Kevin saat bertemu pasangan berjuluk The Prayer di perempatfinal Indonesia Masters 2021.

Namun di balik kiprah gemilang mereka pada akhir tahun ini, Pramudya/Yeremia ternyata menyimpan banyak cerita tentang awal duet mereka. Keduanya sempat bermasalah dengan chemistry karena tidak memiliki keakraban layaknya teman dekat dan karakter yang jauh berbeda.

Pramudya mengakui bahwa dirinya adalah orang yang sangat introvert, sedangkan Yeremia sebaliknya, sangat extrovert. Alhasil sejak mereka resmi berpasangan pada awal 2019, kedua pemain ini mengaku sangat sulit menemukan chemistry karena perbedaan karakter tersebut.

“Jalin hubungan akrab sama Yere –sapaan akrab Yeremia– itu lumayan lama sih, karena jujur karakternya beda banget. Dari awal kenal itu memang beda. Kalau saya nilai diri saya sendiri lebih ke introvert. Kalau Yere itu extrovert banget, yang cuek, nyablak, kalau saya lebih yang mikir. Jadi susah mengerti satu sama lain,” ucap Pramudya kepada MNC Portal Indonesia.

Awalnya, kedua pasangan ini pun menghiraukan adanya perbedaan sifat tersebut. Mereka menilai hal terpenting ketika bermain di lapangan adalah kemampuan individu, dan bukan soal chemistry sebagai pasangan ganda putra.

Pramudya/Yeremia (Humas PP PBSI)

Terlebih pemikiran itu sukses dibuktikan ketika mereka langsung naik podium di Iran Fajr International 2019, yang merupakan turnamen perdana mereka sebagai pasangan ganda putra. Kala itu, mereka sukses meraih titel runner-up. Meski bukan juara, tetapi keduanya dianggap sukses menunjukkan potensi besar.

Sayangnya, prestasi apik Pramudya/Yeremia pada awal 2019 tersebut tidak berlanjut baik. Sepanjang 2019, prestasi mereka terbilang stagnan. Bahkan di ajang BWF World Tour kelas Super 100, seperti Rusia Open, Vietnam Open, dan Indonesia Masters yang mereka ikuti pada tahun itu, keduanya hanya bisa tampil hingga ke babak 16 besar saja.

Belum lagi pada 2020, Pramudya/Yeremia terhalang oleh pandemi yang membuat mereka hanya tampil dalam satu kejuaraan internasional saja yakni Spanyol Masters Super 300. Kala itu pun mereka terhenti di babak 32 besar.

Namun, di balik performa kurang meyakinkan itu, Pramudya/Yeremia akhirnya menyadari satu hal. Secara teknis atau kemampuan, mereka mengaku tidak mengalami kendala apa pun. Akan tetapi, mereka memiliki masalah faktor nonteknis seperti kekompakkan atau chemistry.

“Ada momen sejak pertengahan 2019 itu, kami kalah-kalah terus. Padahal kami sudah mengeluarkan semua kemampuan, latihan bagus, tapi pas pertandingan enggak tembus-tembus. Ditambah lagi pas tahun itu yang bagus-bagus turun level buat cari poin Olimpiade Tokyo, jadi makin sulit persaingannya. Trus akhirnya kita mikir 'enggak bisa nih kalau gini-gini terus, enggak maju-maju',” ucap Pramudya.

“Lagi pula dulu berpikirnya kekompakkan itu nanti dulu, yang penting waktu itu cuma mikir kami punya kemampuan bagus dulu. Trus lama-lama sadar bahwa enggak bisa begini terus. Karena kalau mau main di level tinggi kan harus semua aspeknya bagus, termasuk kekompakkan,” imbuh pemain kelahiran Sukabumi tersebut.

Pramudya/Yeremia (Humas PP PBSI)

Pramudya yang memiliki hobi membaca buku pun akhirnya berusaha keras untuk masuk ke dunia Yeremia. Begitu pun sebaliknya. Yeremia yang sangat aktif bergerak ke sana ke sini mencoba mengakrabkan diri dengan Pramudya. Keduanya mencoba saling mengenal lebih dalam lagi demi menyatukan visi dan misi mereka di dalam serta luar lapangan.

“Kami menurunkan ego masing-masing. Saya kan enggak terlalu suka main game, sedangkan itu adalah hobi Yere. Lalu misalkan Yere main game saya ikutan. Jadi kayak mengikuti kegiatan dia. Begitu juga sebaliknya,” sambung Pramudya.

Dengan cara seperti itu, akhirnya mereka berhasil menyatukan chemistry. Keduanya kini malah tampil kompak di setiap laganya. Hal itu pun sejalan dengan prestasi yang mereka raih tahun ini termasuk menjadi juara Spanyol Masters 2021 Super 300, Belgian International Challenge 2021 hingga mentas di BWF World Tour Finals 2021.

Begitupun ketika berada di luar lapangan. Hal itu terlihat di Indonesia Badminton Festival 2021, di mana berdasarkan pantauan MNC Portal Indonesia, keduanya sering terlihat bersama. Bahkan saking dekatnya, keduanya kini sudah sama-sama saling terbuka untuk bercerita tentang hal-hal pribadi.

“Sebelumnya seperti teman biasa saja. Tapi sekarang ya sudah dekat. Apa-apa jadi berdua terus kan, kayak latihan bareng, ya punya tujuannya bareng, sama-sama pengen maju, jadi apa-apa berdua. Ya kalau soal curhat, dia sih sering curhat tipis-tipis ke saya hahaha,” ujar Pramudya.

“Ya pasti ada saya cerita-cerita khusus sama dia, seperti ibarat hanya Pram –sapaan akrab Pramudya– yang tahu,” ucap Yeremia dengan nada bercanda.

Tak sampai di situ. Keduanya pun benar-benar saling menjaga komunikasi di dalam dan luar lapangan. Andai keduanya sedang dalam underperformance, mereka akan saling terbuka dan menurunkan ego demi menghilangkan rasa dendam atau amarah dalam diri masing-masing.

“Ketika permainan kurang bagus, kami terbuka saja ‘lu kenapa mainnya kayak gini’. Saya sendiri bete ke Yere enggak pernah. Karena kan sudah sama-sama tahu sifatnya, dan itu yang terpenting, biar enggak salah paham. Karena kadang yang bikin bertengkar itu enggak saling tahu karakter masing-masing. Jadi misalkan si A maunya ini, si B maunya ini dan itu enggak nyambung, ya bertengkarlah,” ucap Pramudya.

Pramudya/Yeremia (Humas PP PBSI)

Kini setelah melewati fase sulit, nama Pramudya/Yeremia sudah menjadi sorotan banyak pihak. Tak terkecuali Federasi Bulu Tangkis Dunia atau BWF. Mereka kini pun memiliki julukan The Prayer yang merupakan akronim dari nama Pram dan Yere. Pengesahan julukan tersebut pun tidak lepas dari andil BWF ketika keduanya hadir dalam konferensi pers jelang World Tour Finals 2021.

Namun, dengan banyaknya fans yang mulai menjagokan The Prayer, Pramudya/Yeremia enggan jemawa. Mereka justru semakin termotivasi untuk memberikan yang terbaik, termasuk menambah deretan gelar di level yang lebih atas lagi seperti Super 500 hingga 1000 di masa mendatang.

“Kalau saya pribadi dengan kondisi sekarang (yang sudah mulai disorot), akan sama saja dengan sebelumnya. Meski saat ini banyak pendukung, malah tambah senang ya, tapi kalau beban tidak ada. Paling ya tambah semangat saja karena jadi banyak orang yang mendoakan,” kata Yeremia.

“Ya malah jadi kayak berkah, karena jadi banyak yang support. Trus kayak menang kalah disupport terus,” timpal Pramudya.

Sebelum keduanya berduet, Pramudya dan Yeremia tercatat sering bergonta-ganti partner, baik di ganda putra dan ganda campuran. Sebab, sebelum fokus di ganda putra, kedua pemain ini justru masuk ke Pelatnas PBSI dengan status sebagai pemain ganda campuran.

Kendati begitu, kini nyatanya Pramudya dan Yeremia ditakdirkan bersama untuk tampil di nomor ganda putra. Sejauh ini langkah mereka pun berjalan sangat baik dan siap menjadi penerus para seniornya yang tampil luar biasa di sektor tersebut.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini