Cerita Protes Ni Nengah Widiasih dan Pelatih Sebelum Raih Medali Perak di Paralimpiade Tokyo 2020

Andika Rachmansyah, Jurnalis · Jum'at 27 Agustus 2021 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 27 43 2462182 cerita-protes-ni-nengah-widiasih-dan-pelatih-sebelum-raih-medali-perak-di-paralimpiade-tokyo-2020-ngDRv85GOi.jpg Ni Nengah Widasih meraih medali perak di Paralimpiade Tokyo 2020. (Foto/Reuters)

TOKYO – Atlet para lifter Indonesia, Ni Nengah Widiasih menceritakan di balik upayanya meraih medali perak di Paralimpiade Tokyo 2020. Perempuan berusia 28 tahun itu mengatakan, dia dan pelatihnya harus melakukan protes kepada dewan wasit karena angkatannya dianggap gagal.

Widi –panggilan akrabnya- berhasil menyumbang medali perak untuk Indonesia dalam cabang olahraga angkat berat. Bertanding di Tokyo International Forum, Kamis (26/8/2021), dia berhasil finis posisi kedua di nomor 41kg putri.

Namun, terdapat cerita menarik di balik keberhasilannya itu. Pasalnya Widi hampir saja hanya meraih medali perunggu jika tidak ada kejadian protes dari ofisial Indonesia terhadap dewan wasit.

Foto/Reuters

Cerita bermula saat Widi sukses melakukan angkatan pertama seberat 96 kg. Kemudian saat melakukan angkatan keduanya seberat 98 kg dengan bagus, Widi dinyatakan tidak mulus dengan mendapat bendera merah dari wasit sehingga didiskualifikasi oleh dewan wasit.

Baca juga: Rahadewineta, Satu-satunya Wasit Perempuan Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020

Karena kegagalan yang diterimanya tersebut, Widi berada di urutan ketiga. Praktis dia berpeluang hanya meraih medali perunggu, sebab posisi kedua ditempati oleh lifter Venezuela, Monasterio Fuentes yang mencatat angkatan 97 kg.

Baca juga: 6 Dosen UNS Jadi Pelatih Atlet Tim Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020

Pada saat itu, Widi mengaku tidak puas dengan keputusan dewan wasit. Dia mengatakan ingin mengajukan protes bersama pelatihnya, Yanti, akan tetapi mereka mengurungkan niat tersebut.

“Setelah angkatan kedua saya didiskualifikasi, saya dan pelatih sempat ingin mempertanyakan keputusan itu. Namun kami mengurungkan niat itu. Kami baru akan melakukan protes jika pada angkatan ketiga saya juga dibatalkan,” ucap Widi dalam rilis resmi yang diterima MPI, Jumat (27/8/2021).

Gagal di angkatan kedua tidak menyurutkan semangat dan konsentrasi Widi untuk tetap tampil bagus di angkatan ketiga. Barbel seberat 98 kg berhasil diangkat Widi dengan sempurna. Namun, lagi-lagi dewan wasit mendiskualifikasi angkatannya tersebut.

Widi pun sontak kaget atas keputusan dewan wasit. Karena menurutnya angkatan yang dia lakukan itu berjalan mulus. Dia pun menyatakan bahwa saat itu sang pelatih meminta dewan wasit untuk memutar ulang tayangan angkatannya. Hingga akhirnya angkatan Widi dinyatakan sah.

“Setelah angkatan ketiga itu, wasit mengangkat bendera merah yang menandakan angkatan saya tidak mulus. Dengan cepat pelatih langsung menghampiri dewan wasit untuk mempertanyakan keputusan wasit itu dan meminta untuk direview atau diputar ulang tayangan angkatan saya untuk melihat apa kesalahan saya,” ungkapnya.

Foto/NPC

“Setelah melihat video review akhirnya dewan wasit menyatakan bahwa angkatan saya mulus dan tangan saya tidak miring sehingga dewan wasit mengesahkan angkatan saya,” lanjutnya.

Alhasil Widi pun berhasil meraih medali perak setelah Fuentes gagal melakukan angkatan ketiga seberat 99 kg. Hasil buruk Fuentes otomatis mendongkrak posisi Widi naik ke urutan kedua. Sedangkan medali emas pada nomor ini diraih oleh lifter Tiongkok, Guo Lingling dengan angkatan terberat 108 kg.

Perlu diketahui, medali perak yang diraih oleh atlet asal Bali itu merupakan medali pertama bagi kontingen Indonesia di pentas Paralimpiade Tokyo 2020. Tentu kita berharap raihan tersebut menjadi pembuka jalan dan pelecut semangat bagi atlet lain untuk menunjukan penampilan terbaik bagi kontingen Merah Putih.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini