Alami Anemia Sejak Lahir, Atlet Sepeda Ini Bertransformasi Jadi Juara Dunia

Andhika Khoirul Huda, Jurnalis · Sabtu 07 Agustus 2021 12:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 07 43 2452316 alami-anemia-sejak-lahir-atlet-sepeda-ini-bertransformasi-jadi-juara-dunia-AwNUPkHvdj.jpg Sarah Lee Wai-sze atelt sepeda asa Hong Kong juara dunia 2019. (Foto/Facebook Sarah Lee-Wai

TOKYO – Mengalami anemia sejak lahir, atlet sepeda asal Hongkong, Sarah Lee Wai-sze, memiliki pencapaian luar biasa. Meski menderita kekurangan sel darah merah, dia menjadi juara dunia balap sepeda dan kini mengikuti Olimpiade Tokyo 2020.

Sarah Lee Wai-sze lahir pada 12 Mei 1987 dan berasal dari keluarga sederhana. Atlet berusia 34 tahun ini dibesarkan di perumahan umum di Ngau Tau Kok di Kowloon timur, Hongkong, keluarganya disebut berbagi rumah flat seluas 18 meter persegi.

Foto/Facebook

Sejak kecil Wai-sze menunjukkan bakat alami untuk olahraga atletik. Namun, pelajar Sekolah Katolik Uskup Paschang dan mahasiswa Universitas Leung Shek Chee ini secara teratur lelah, menderita pusing dan kelelahan karena anemia yang dideritanya. Dia sebelumnya ingat pernah pingsan di garis finish lapangan atletik setelah berolahraga satu hari penuh di sekolah.

Wai-sze mengenal olahraga bersepeda pada 2003 dan dengan cepat bakatnya tercium oleh Institut Olahraga Hong Kong. Dia disebut sebagai prospek tim sepeda wanita dan akan bekerja penuh menjadi profesional pada tahun berikutnya.

Baca juga: Konflik dengan Pelatih, Sprinter yang Tampil di Olimpiade Tokyo 2020 Takut Pulang ke Negaranya

Tapi semuanya runtuh pada tahun 2006, ketika pemain yang saat itu berusia 19 tahun berbelok untuk menghindari seekor anjing saat pelatihan. Kecelakaan itu mematahkan beberapa tulangnya dan membuatnya masuk ruang operasi tiga kali.

Baca juga: Nurul Akmal Alami Body Shaming, Ketua KOI: Dia Ingin Tenang dan Fokus Latihan

Dia absen selama lebih dari satu tahun, tetapi meskipun dalam perawatan, dia diundang oleh pelatih Shen Jinkang, yang melatihnya sampai hari ini, untuk menghadiri Olimpiade Beijing 2008 untuk merasakan pengalaman acara internasional bergengsi itu.

Setelah kembali bugar,Wai-sze berada di urutan kedua di Kejuaraan Asia 2009 dan memenangkan empat medali emas di Track Asia Cup. Pada 2010, dia memecahkan rekor time trial 500m asia dan memenangkan emas Asian Games, sekaligus mengumpulkan beberapa penghargaan lokal. Dia memenangkan emas Kejuaraan Asia pertamanya setahun kemudian.

Pada Olimpiade London 2012, dia menjadi pembawa bendera Hongkong dan berhasil mendapat medali perunggu di nomor sepeda keirin. Ini menjadi titik dimana negaranya menemukan bintang yang layak untuk menggantikan legenda sepeda mereka, Wong Kam-po.

Dominasi Lee Wai-sze pun dimulai. Dia dinobatkan sebagai juara dunia pada 2013 dalam nomor time trial 500m untuk menjadi wanita Hong Kong pertama yang mengenakan jersey pelangi yang didambakan itu.

Kariernya terus meningkat sejak saat itu. Penonton sudah tidak asing melihat Wei-sze berada di podium. Dia mendapat tiga mahkota kejuaraan dunia UCI Track, lima medali emas Asian Games, dan 19 gelar Kejuaraan Asia. Dominasinya mencapai titik di mana tim Hong Kong harus memanggil pesepeda pria luar negeri untuk mengikutinya dalam latihan.

Performanya sempat menurun di Olimpiade Rio 2016 setelah mengalami kecelakaan dan hanya finis di posisi ketujuh. Namun, dia bisa bangkit dan mengumpulkan dua emas lagi di Asian Games dan tiga medali emas Kejuaraan Asia pada tahun 2018. Puncaknya, pada 2019 dia mendulang dua emas Kejuaraan Dunia di Polandia.

Diundurnya Olimpiade Tokyo 2020 sempat menimbulkan pertanyaan apakah Wai-sze akan terus melanjutkan karirnya atau tidak. Mengingat umurnya yang sudah menginjak angka 34 tahun ini.

“Mereka pikir kekuatan dan kebugaran saya tidak akan sekuat atlet muda. Tapi, sebenarnya, saya bukan satu-satunya yang akan setahun lebih tua di Olimpiade. Kita semua akan menjadi satu tahun lebih tua saat itu,” kata Wai-sze dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (7/8/2021).

Foto/Facebook

“Ada kesalahpahaman bahwa atlet harus pensiun begitu mereka mencapai usia 30 tahun. Jika Anda melihat pebalap dari Barat, banyak yang lebih tua dari saya dan beberapa bahkan telah memenangkan medali emas Olimpiade,” imbuhnya.

Wai-sze menggunakan istilah Kanton "semakin tua jahe, semakin pedas" atau semakin tua semakin jadi. Dia menegaskan kembali bahwa Tokyo "tidak akan menjadi turnamen terakhirnya, meskipun mengakui bahwa dia berada di ujung karirnya.

“Meskipun kami atlet yang lebih tua mungkin tidak memiliki banyak waktu dan potensi seperti yang lebih muda, kami menebusnya dalam pengalaman. Kami mungkin memiliki beberapa kerutan di dahi kami, tetapi setiap kerutan adalah tahun yang lebih bijaksana,” ujar perempuan berusia 34 tahun itu.

Setelah hampir 14 bulan tanpa kompetisi internasional, dia berlomba di UCI Track Cycling Nations Cup perdana di Velodrome Hong Kong, memenangkan emas dan perak hanya tiga bulan dari Tokyo.

Lee Wai-sze masih berjuang dalam perjalanannya di Olimpiade Tokyo 2020. Dia masih terus lolos di nomor balap sprint wanita. Perjuangannya di balap sepeda trek wanita hari ini akan dimulai pukul 13.40 WIB.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini