PBSI Kutuk Tindakan 8 Pebulu Tangkis Indonesia yang Terlibat Kasus Pengaturan Skor

Bagas Abdiel, Jurnalis · Jum'at 08 Januari 2021 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 08 40 2341157 pbsi-kutuk-tindakan-8-pebulu-tangkis-indonesia-terlibat-kasus-pengaturan-skor-BWdYlB7Ceq.jpg Ilustrasi Bulu Tangkis

JAKARTA – Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) mengutuk tindakan delapan pebulu tangkis Indonesia yang terlibat kasus pengaturan skor dan hasil pertandingan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Bidang Humas dan Media PBSI, Broto Happy.

Pada hari ini, (8/1/2021), BWF resmi mengumumkan ada delapan pebulu tangkis Tanah Air yang terlibat dalam tindakan indiplisiner tersebut. Kedelapan pebulu tangkis tersebut melanggar pertaruran integritas BWF terkait pengaturan pertandingan, manipulasi pertandingan dan taruhan bulu tangkis.

Bulu Tangkis

Ada pun kedelapan pebulu tangkis tersebut adalah Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Marwati, Fadila Afni, Aditiya Dwiantoro, dan Agripinna Prima Rahmanto. Semuanya pun telah mendapat hukuman sesuai dengan pelanggarannya masing-masing.

Bahkan tiga dari delapan pebulu tangkis mendapat skorsing tidak boleh terlibat dalam kegiatan bulu tangkis seumuru hidup. Sedangkan yang lain diskors selama enam hingga 12 tahun dan denda masing-masing antara USD3.000 hingga USD12.000.

Baca juga BWF Ungkap 8 Pebulu Tangkis Indonesia Terlibat Kasus Pengaturan Skor

PBSI yang diwakili Broto pun mengutuk tindakan tidak terpuji kedelapan atlet tersebut karena mencederai sportivitas olahraga bulu tangkis. Termasuk mencoreng nama bulu tangkis Indonesia di mata internasional.

“Yang pasti PBSI mengutuk tindakan yang tidak sportif yang dilakukan pemain ini. Padahal dalam bulu tangkis diajarkan kejujuran, fair play, respect, dan mereka mencederai itu,” ucap Broto Happy saat dihubungi Okezone, Jumat (8/1/2021).

Broto juga telah memastikan bahwa kedelapan atlet tersebut bukanlah pemain pelatnas PBSI di Cipayung pada saat ini. Bahkan ketika mereka melakukan pelanggaran tersebut, mereka sedang tidak berstatus sebagai pemain Pelatnas PBSI.

“Intinya apa yang dilakukan delapan pemain yang tertangkap terkait pengaturan skor itu bisa dipastikan mereka bukan pemain Pelatnas Cipayung saat ini,” tambahnya.

Ilustrasi Bulu Tangkis

“Termasuk ketika melakukan judi, dan saat itu mereka kapasitasnya juga bukan pemain pelatnas. Itu bisa dipastikan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Broto menegaskan bahwa kedelapan pemain tersebut telah menjalani hukuman skorsing sejak tahun lalu. Hal itu juga telah disampaikan BWF dalam pernyataan resmi sebelumnya tentang masa hukuman skorsing yang telah dimulai sejak 18 Januari 2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini