“Saat saya bukan rivalnya, kami jadi kawan baik, dan mempunyai hubungan sangat baik. Tapi sekalinya kami bertarung di lintasan, pertemanan kami benar-benar rusak, dan kami tak pernah punya hubungan baik lagi dan takkan pernah kembali seperti dulu lagi,” sambung pria berusia 47 tahun itu.
“Saya yakin Vale memang memilih situasi itu, karena itulah caranya memahami hidup. Kamera dan citra publik yang kita lihat darinya tampak sangat alami dan mengundang empati dari banyak orang. Ia seperti orang yang sangat baik, tapi ia juga butuh menciptakan rivalitas sengit dengan lawannya di trek.”
Baca Juga: 3 Fakta Kekayaan Valentino Rossi, Nomor 1 Punya Rumah Senilai Rp162,6 Miliar
“Tapi Anda memang harus memakluminya, karena ia ada di sana untuk merebut gelar dunia, bukan mencari teman. Caranya memahami dunia balap memang sangat layak dihormati. Saya tak sepakat dengannya soal banyak hal, tapi jelas saya mengaguminya sebagai rider yang hebat,” tutupnya.
Sekedar informasi, masa depan Rossi sendiri saat ini memang masih belum jelas kelanjutannya. Rossi kabarnya bakal melanjutkan karier di Tim Petronas Yamaha SRT, namun belum ada konfirmasi langsung dari sang pembalap bersangkutan.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.