Berakhir Antiklimaks (Lagi)

Achmad Firdaus, Jurnalis · Senin 27 Juni 2011 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2011 06 27 136 473089 g2WhOm9n2p.jpg Foto: Ist

HALL Istora Senayan akhirnya kembali ke suasana semula, yang hening dan tak banyak aktifitas setelah hampir sepekan dipadati masyarakat pecinta bulutangkis yang datang untuk mendukung pemain andalannya tampil di Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2011. Sayang, antusiasme fans yang membludak tidak diiringi oleh kesuksesan wakil Indonesia di ajang bertaraf internasional tersebut.

Ya, untuk kali ketiga secara beruntun, Indonesia harus kembali gagal menjadi yang terbaik di rumah sendiri. Setelah terakhir kali sukses meraih gelar juara pada 2008, melalui Sony Dwi Kuncoro dan ganda putri Vita Marissa/Liliyana Natsir, Indonesia harus rela hanya menyaksikan China dan Malaysia mendominasi di tiga tahun berikutnya, termasuk DIOSSP tahun ini.

Dimulai sejak Selasa, (21/6/2011), sejumlah pebulutangkis muda Indonesia mengawali perjuangannya melalui babak kualifikasi. Meski ada yang harus kecewa lantaran gagal menembus babak utama, seperti terjadi pada Sony Dwi Kuncoro yang langsung angkat koper di pertandingan pertama kualifikasi, namun tak jarang juga yang bersorak kegirangan karena sukses menembus babak utama.

Memasuki babak utama, keesokan harinya, para punggawa Merah Putih mulai bertumbangan, hingga akhirnya hanya menyisakan dua wakil di partai puncak, Minggu (26/6/2011). Mereka adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan ganda putri, Vita Marissa/Nadya Melati.

Sementara, sejumlah wakil di beberapa nomor harus lebih dulu angkat koper. Taufik Hidayat dan Adriyanti Firdasari yang jadi satu-satunya tunggal putra/putri yang lolos hingga perempatfinal, harus gagal ke semifinal karena dikandaskan lawan-lawannya. Taufik dikalahkan Peter Gade, sedangkan Firda kalah dari Yanjiao Jiang. Sedangkan di nomor ganda putra, pasangan terbaik Indoenesia, Markis Kido/Hendra Setiawan harus terhenti langkahnya di semifinal usai ditundukkan pasangan terbaik China, Cai Yun/Fu Haifeng.

Sukses Vita Marissa/Nadya serta Tontowi/Liliyana menembus partai puncak, memberikan sedikit harapan buat Indonesia untuk mengakhir paceklik gelar di dua kejuaraan yang lalu. Namun, apa daya kenyataan justru berkata lain. Di final ganda putri, Vita/Nadya harus mengakui keunggulan pasangan China, Wang Xiaoli/Yu Yang.

Kekalahan Vita/Nadya praktis membuat Indonesia hanya bertumpu pada pasangan anyar Tontowi/Liliyana yang jadi jawara dalam tiga turnamen terakhir (Malaysia, India dan Singapura Terbuka). Turun di partai penutup menghadapi pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei yang mereka kalahkan di semifinal Singapura Terbuka, pekan lalu, Tontowi/Liliyana sempat membuka asa dengan merebut game pertama 22-20.

Sayang, mereka gagal mempertahankan konsistensi permainan sehingga Zhang/Zhao berhasil merebut game kedua 21-14 dan memaksakan rubber game. Di game penentuan, Tontowi/Liliyana yang sudah menampilkan permainan terbaiknya harus menyerah 21-9. Otomatis, kekalahan mereka memastikan Indonesia harus kembali bersabar untuk bisa berjaya di negeri sendiri.

Menyikapi hasil ini, induk olahraga bulutangkis Indonesia (PBSI) cukup mengerti karena turnamen yang sekarang lebih berat, menyusul peningkatan level dari ‘Superseries’ menjadi ‘Superseries Premier’ di mana sepuluh pebulutangkis teratas dunia wajib ambil bagian. Meski kecewa, PBSI tetap mengapresiasi perjuangan wakil Merah Putih dan berharap mereka, terutama pemain muda bisa mengambil pelajaran berharga dari pengalaman ini.

“Kami meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi," kata Sekjen PBSI, Jacob Rusdianto setelah pertandingan final, Minggu (26/6/2011).

Terlepas dari hasil yang antiklimaks, perhelatan Djarum Indonesia Open Superseries Premier (DIOSSP) 2011 tahun ini diakui Jacob cukup sukses. Terbukti, sejak hari pertama perhelatan (babak kualifikasi), animo masyarakat yang hadir terus meningkat. Tak kurang, 5.000 pasang mata hadir di Istora untuk menyaksikan partai final.

Tak hanya dari segi jumlah penonton, berbagai fasilitas hiburan yang disuguhkan panitia di area Istora juga turut membantu menyemarakkan turnamen bulutangkis termahal kedua setelah Korea Superseries, dengan menyediakan hadiah total USD600 ribu. Beragam stand-stand dari mulai games, aksesoris, kuliner, hiburan live band tak pernah sepi dari kunjungan penonton.

Tahun depan, Jacob memastikan bahwa Istora akan kembali jadi venue perhelatan ‘Djarum Indonesia Superseries Premier 2012’ yang rencananya akan digelar 12-17 Juni 2012. Dengan hadiah yang kabarnya akan naik menjadi USD625 ribu atau setara Rp5,5 miliar, kita pun pastinya berharap agar wakil-wakil Indonesia bisa mengakhiri paceklik gelar di rumah sendiri.

(acf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini