“Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangkan. Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah,” ujarnya.
Okto juga menekankan pentingnya budaya evaluasi yang sehat. Kritik, menurutnya, tidak boleh dianggap sebagai serangan terhadap organisasi atau individu, melainkan harus diubah menjadi dasar pengambilan keputusan.
“Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data,” katanya.
Bagi Okto, evaluasi Aichi-Nagoya tidak cukup berhenti pada kalimat “target empat, hasilnya lima”. Yang harus dijawab adalah bagaimana prestasi tersebut dapat diperluas dan dibuat berkelanjutan.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama. Lima emas adalah pencapaian yang harus diapresiasi, tetapi juga menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kita membangun Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?” pungkas Okto.
(Ramdani Bur)