Menurut Andy, cedera tersebut terjadi ketika Bintang melakukan blok dan kaki pemain Qatar masuk hingga menginjak kaki Bintang. Tim pelatih selanjutnya akan mengevaluasi kejadian tersebut dari sisi regulasi.
“Cederanya cukup parah dan sangat memengaruhi performance. Kami sempat meminta medical timeout, tetapi Bintang tetap memaksakan untuk bermain,” ujar Andy.
Meski gagal membawa pulang emas, Andy menilai pencapaian tersebut tetap menjadi hasil penting bagi perkembangan voli pantai Indonesia. Terlebih, ini menjadi medali pertama Indonesia di cabang tersebut sejak Asian Games 2018.
“Untuk capaian ini sangat bagus. Terakhir kami meraih medali itu di Asian Games 2018 Jakarta. Insyaallah untuk Asian Games berikutnya kami bisa kembali meraih medali,” kata Andy.
Setelah Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Bintang/Sofyan juga akan melanjutkan perjuangan di berbagai turnamen internasional untuk mengumpulkan poin menuju Olimpiade.
“Setelah ini mereka akan ke Turki untuk pengumpulan poin, kemudian ke Jepang juga untuk mengumpulkan poin menuju Olimpiade,” ungkap Andy.
Sofyan mengakui cedera yang dialami Bintang turut memengaruhi konsentrasi permainan mereka.
“Tadi ada kendala dari teman saya (Bintang) karena bertabrakan dengan pemain Qatar. Set pertama kami menang, tetapi di set kedua kami kehilangan konsentrasi. Saya kurang fokus melihat kondisi teman saya yang mengalami cedera ankle. Set ketiga kami juga tidak fokus menghadapi lawan,” kata Sofyan.
“Untuk pencapaian ini, sedikit lagi. Sebenarnya target kami emas, tetapi kurang sedikit lagi. Karena saya kena ankle, sebenarnya kami merasa bisa memenangkan pertandingan,” pungkas Bintang.
(Ramdani Bur)