JAKARTA - Mantan atlet judo nasional Indonesia, Sadik Algadri, mengungkap kegelisahan yang melatarbelakangi lahirnya buku karyanya berjudul Membangun Otot di Negeri Kertas. Buku tersebut dibedah dalam sebuah diskusi di Gedung Serbaguna, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu 5 September 2026.
Bedah buku itu turut dihadiri akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Yunyun Yudiana. Dalam kesempatan tersebut, Sadik memaparkan berbagai persoalan olahraga Indonesia yang menjadi perhatian dalam bukunya.
Sadik mengatakan, buku Membangun Otot di Negeri Kertas lahir dari kegelisahan terhadap kondisi olahraga nasional. Proses penulisannya berlangsung sekitar lima hingga enam bulan dengan melibatkan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan olahraga Indonesia.
Menurut Sadik, salah satu hal yang mendorong dirinya menulis buku tersebut adalah munculnya sebuah aturan sebelum Presiden Prabowo Subianto dilantik pada 20 Oktober. Ia menilai aturan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap olahraga nasional dan berkaitan dengan prinsip yang tercantum dalam Olympic Charter.
"Jadi, perlu diketahui bahwa olahraga prestasi memiliki semacam garis besar atau undang-undang sendiri yang disebut Olympic Charter. Di dalamnya, secara garis besar, diatur bahwa jika pemerintah ikut campur dalam politik olahraga, apalagi sampai mengatur proses olahraga, ada konsekuensi tertentu, termasuk kemungkinan mendapatkan sanksi," kata Sadik.
Kegelisahan tersebut kemudian didiskusikan bersama sejumlah pihak yang memiliki keresahan serupa. Sadik sempat mencoba menyampaikan gagasannya melalui siniar sebelum akhirnya memilih buku sebagai media untuk menuangkan pandangannya.
"Kemudian saya mencoba membuat podcast. Namun, mungkin tidak ada yang mau menerima podcast yang terlalu kritis. Akhirnya, kami berpikir, 'Sudah, kita buat buku saja,'" ujar Sadik.
Dalam proses penulisan buku, Sadik mendapat dukungan dari sejumlah rekannya yang memiliki pengalaman akademis dan memahami metodologi penulisan. Salah satunya adalah wartawan senior olahraga Suryansah yang turut membantu proses tersebut.
"Saya juga memiliki teman-teman yang secara metodologis memiliki pengalaman sebagai dosen dan memahami proses pembuatan buku. Salah satunya adalah Pak Suryansah yang sekarang banyak membantu," ucapnya.
Sadik menegaskan, gagasan dalam buku tersebut tidak lahir semata-mata karena kemarahan terhadap kondisi olahraga Indonesia. Ia menyebut berbagai diskusi dan proses komunikasi telah dilakukan sebelum kritik tersebut dituangkan dalam sebuah karya.
"Ya, tentu. Kegelisahan itu pasti ada dasarnya. Kalau hanya marah-marah, tentu tidak masuk akal. Semua proses itu sudah kami lakukan. Kami memang orang-orang yang berada di organisasi olahraga dan memahami etika dalam olahraga. Etika itu sangat dihargai," ujarnya.
Salah satu pembahasan yang menjadi sorotan Sadik adalah peran olahraga dalam pembangunan sebuah negara. Ia menjadikan Asian Games 2018 di Indonesia sebagai salah satu momentum untuk melihat bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan bangsa.
Sadik kemudian membandingkan penyelenggaraan Olimpiade di Jepang, Korea Selatan, dan China dengan perkembangan negara-negara tersebut. Menurutnya, ajang olahraga internasional dapat menjadi momentum bagi sebuah negara untuk menunjukkan kebangkitan, keterbukaan, dan kemajuan kepada dunia.
"Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali," katanya.
"Nah, kami berharap Asian Games 2018 di Indonesia juga bisa menjadi momentum seperti itu. Namun, setelah Asian Games 2018, bahkan memasuki 2017 dan seterusnya, kembali lagi persoalan anggaran seperti yang kita bicarakan tadi," imbuhnya.
Sadik menilai perhatian terhadap olahraga di Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Ia menyoroti persoalan anggaran dan menilai olahraga masih kerap ditempatkan sebatas hiburan, bukan sebagai instrumen pembangunan.
"Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban," katanya.
Ia juga membandingkan perkembangan olahraga Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Sadik mempertanyakan kondisi Indonesia ketika negara-negara yang sebelumnya banyak belajar dari Indonesia justru mampu berkembang lebih jauh.
"Kalau semuanya mau disebutkan, saya pikir dari diskusi ini Anda bisa menyimpulkan sendiri bahwa memang ada hal-hal tertentu yang harus diperbaiki. Kenapa kita kalah dari negara-negara Asia lainnya?" ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sadik tidak menyebut secara spesifik aturan yang menjadi salah satu pemicu kegelisahannya. Ia memilih menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai pentingnya keberanian melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap tata kelola olahraga Indonesia.
"Kalau soal aturan itu, saya tidak akan menyebutkannya secara spesifik. Yang jelas, para pemangku jabatan harus menyadari bahwa olahraga itu bukan sekadar olahraga," ujarnya.
Sadik berharap Membangun Otot di Negeri Kertas tidak berhenti sebagai karya yang mengkritisi berbagai persoalan olahraga. Ia ingin buku tersebut menjadi pemantik perubahan sekaligus mendorong keberanian untuk mengakui berbagai persoalan yang masih terjadi.
"Ya, seperti yang saya sampaikan tadi, harapan besarnya adalah adanya perubahan. Kita harus berani menyatakan dan berani mengakui," tuturnya.
"Pertama, kalau kita mau marah, kita harus mengakui terlebih dahulu bahwa ada kesalahan. Setelah mengakui, baru kita berani menyatakan, 'Ya, ini kita salah.'"
"Setelah itu, kita maju. Kita bisa berubah. That's it. Berpikirnya harus jernih, tetapi mengerjakannya belum tentu mudah," pungkas Sadik.
(Rivan Nasri Rachman)