Mantan Atlet Judo Indonesia Sadik Algadri Ungkap Kegelisahan di Balik Buku Membangun Otot di Negeri Kertas

Andri Bagus Syaeful , Jurnalis
Minggu 06 September 2026 11:20 WIB
Mantan Atlet Judo Indonesia Sadik Algadri Ungkap Kegelisahan di Balik Buku Membangun Otot di Negeri Kertas. (Foto: Ist)
Share :

Sadik menegaskan, gagasan dalam buku tersebut tidak lahir semata-mata karena kemarahan terhadap kondisi olahraga Indonesia. Ia menyebut berbagai diskusi dan proses komunikasi telah dilakukan sebelum kritik tersebut dituangkan dalam sebuah karya.

"Ya, tentu. Kegelisahan itu pasti ada dasarnya. Kalau hanya marah-marah, tentu tidak masuk akal. Semua proses itu sudah kami lakukan. Kami memang orang-orang yang berada di organisasi olahraga dan memahami etika dalam olahraga. Etika itu sangat dihargai," ujarnya.

Salah satu pembahasan yang menjadi sorotan Sadik adalah peran olahraga dalam pembangunan sebuah negara. Ia menjadikan Asian Games 2018 di Indonesia sebagai salah satu momentum untuk melihat bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan bangsa.

Sadik kemudian membandingkan penyelenggaraan Olimpiade di Jepang, Korea Selatan, dan China dengan perkembangan negara-negara tersebut. Menurutnya, ajang olahraga internasional dapat menjadi momentum bagi sebuah negara untuk menunjukkan kebangkitan, keterbukaan, dan kemajuan kepada dunia.

Akademisi hingga Wartawan Senior Bedah Buku Membangun Otot di Negeri Kertas: Bicara Masa Depan Olahraga Indonesia

"Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali," katanya.

"Nah, kami berharap Asian Games 2018 di Indonesia juga bisa menjadi momentum seperti itu. Namun, setelah Asian Games 2018, bahkan memasuki 2017 dan seterusnya, kembali lagi persoalan anggaran seperti yang kita bicarakan tadi," imbuhnya.

Sadik menilai perhatian terhadap olahraga di Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Ia menyoroti persoalan anggaran dan menilai olahraga masih kerap ditempatkan sebatas hiburan, bukan sebagai instrumen pembangunan.

"Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban," katanya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya