Selain prestasi di dalam lapangan, Axelsen dikenal sebagai sosok yang visioner. Langkahnya mempelajari bahasa Mandarin demi mendekatkan diri dengan penggemar di Asia, serta keputusannya pindah ke Dubai untuk membangun pusat latihan mandiri, telah menginspirasi banyak pemain muda seperti Lakshya Sen dan Loh Kean Yew.
Meski raket kini telah diletakkan, Axelsen memberikan isyarat bahwa ia tidak akan benar-benar meninggalkan olahraga yang telah membesarkan namanya tersebut. Ia merasa telah memberikan segalanya dan bulutangkis pun telah memberinya kehidupan yang luar biasa.
"Apa yang membuat perpisahan ini paling sulit bukanlah kompetisinya, melainkan segala hal di sekitarnya. Perjalanan, kerja keras harian, dan orang-orang di dalamnya. Saya telah mencapai semua yang pernah saya impikan, bahkan lebih," tutup Axelsen.
(Rivan Nasri Rachman)