Meski telah pindah membela Belanda, hati Mia tetap tertinggal di Jakarta. Ada satu komitmen emosional yang terus ia pegang teguh selama berkarier untuk Negeri Kincir Angin, ia sebisa mungkin menghindari bertanding di hadapan publik Indonesia demi tidak menyakiti hati para pendukung yang dulu memujanya.
Loyalitas emosional ini dibuktikan dengan seringnya Mia mengundurkan diri dari ajang Indonesia Open. Bahkan, dalam gelaran Piala Uber 2008 yang berlangsung di Jakarta, ia meminta kepada federasi Belanda untuk tidak mencantumkan namanya dalam skuad.
Langkah ini dilakukan semata-mata karena ia tidak sanggup jika harus berhadapan dengan pemain Indonesia di tanah kelahirannya sendiri. Kisah ini menjadi pengingat bahwa meski status kewarganegaraan bisa berubah, kecintaan terhadap asal-usul adalah sesuatu yang tak bisa dihapus.
(Rivan Nasri Rachman)