"Tadi sebelum main ketemu sama Joaquin, dia bilang 'ayo nih saatnya Gen Z'," tutur Febi.
"Kami memang sering ngobrol. Tadi sebelum main saya sempat bicara ke Febi 'ayo Gen Z Gen Z bisa'," kata Joaquin yang membenarkan pernyataan Febi.
Taring para pemain Gen Z memang tidak bisa diremehkan. Mereka memiliki mental dan ambisi besar untuk bisa menaklukkan dunia. Meski Gen Z kerap dianggap negatif, tapi para pebulu tangkis muda ini sudah terbiasa dengan gemblengan keras.
"Mungkin saya pribadi dan teman-teman yang ada di Pelatnas yang seumuran saya, pastinya ingin berada di level atas secepatnya. Memang tidak bisa dipungkiri butuh pengalaman, butuh jam terbang, butuh merasakan atmosphere yang berbeda-beda, bertemu pemain dari segala ranking, tidak bisa menyepelekan, dan bertemu dengan berbagai kondisi lapangan," terang Alwi.
"Kita punya jiwa jiwa muda, nothing to lose-nya ada, mau lawan siapapun (tidak takut). Trus juga ada nafsu-nafsunya, ya semangat Gen Z. Kita bukan berarti junior harus mengalah sama senior, kita juga mau bersaing menempel senior-senior kita. Kita sudah membiasakan untuk latihannya tidak manja-manja," kata Rachel.
Dengan pencapaian ini, para pebulu tangkis muda Indonesia ini tidak ingin berhenti. Gen Z ingin membuktikan bahwa mereka bisa menjadi harapan cerah bagi masa depan bulu tangkis Indonesia.
"Kita di umur 20, 21, 22 tahun bisa mulai menunjukkan kalau kita bisa, ya bagus. Semoga aja dua atau tiga tahun ke depan kita sudah matang dan sudah siap untuk berangkat ke turnamen minimal semifinal, juara, juara, juara. Namanya mau naik level pasti enggak gampang, mau di mana pun, profesi apa pun mau naik level pasti kesulitannya berat, tantangannya luar biasa," tukas Felisha.
(Rivan Nasri Rachman)