Kisah Tragis Ye Zhaoying: Rival Abadi Susy Susanti yang Namanya Dihapus dan Terbuang dari Tanah Kelahirannya

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Kamis 22 Januari 2026 17:59 WIB
Legenda Bulu Tangkis asal China, Ye Zhaoying. (Foto: BWF)
Share :

DUNIA bulu tangkis era 90-an mungkin mengenang Susy Susanti sebagai ratu yang tak tertandingi, namun di balik kejayaan sang legenda Indonesia, ada satu nama yang selalu membayangi: Ye Zhaoying. Jika Susy dipuja sebagai pahlawan nasional, nasib memilukan justru menimpa Ye. Pemilik 11 kemenangan dari 34 duel epik melawan Susy ini kini bukan lagi pahlawan bagi negaranya, melainkan sosok yang namanya haram diucapkan dalam sejarah olahraga China.

Pebulu tangkis kelahiran Hangzhou, 7 Mei 1974 ini, awalnya adalah permata paling berkilau di Negeri Tirai Bambu. Dengan teknik yang kilat dan kecerdasan strategi yang mematikan, Ye Zhaoying merajai puncak dunia. Namun, segala tinta emas yang ia torehkan seketika luntur menjadi noda hitam bagi pemerintah China setelah sebuah pengakuan jujur yang mengguncang integritas sistem olahraga di negaranya.

1. Skandal Pengaturan Skor

Gugurnya nama Ye Zhaoying berawal dari rahasia kelam yang ia simpan rapat selama bertahun-tahun mengenai insiden Olimpiade Sydney 2000. Dalam sebuah kejujuran yang pahit, Ye mengaku bahwa dirinya dipaksa mengalah oleh sistem demi memuluskan langkah rekan senegaranya, Gong Zhichao, di babak semifinal. Instruksi untuk "sengaja kalah" demi ambisi emas kolektif negara tersebut rupanya menjadi duri dalam daging bagi Ye.

Kejujuran itu dianggap sebagai pemberontakan terhadap rezim yang penuh intrik politik. Alih-alih mendapatkan simpati, ia justru dicap sebagai pengkhianat negara yang telah mencoreng citra China di mata internasional. Sejak saat itu, mesin propaganda negara bergerak cepat: nama Ye Zhaoying dihapus dari buku sejarah, prestasi-prestasinya seolah tak pernah ada, dan ia pun dikucilkan secara sistematis dari lingkungan yang membesarkannya.

ye zhaoying

2. Terasing di Spanyol

Tekanan yang tak tertahankan memaksa Ye Zhaoying mengambil langkah drastis dengan meninggalkan tanah kelahirannya menuju Spanyol. Pelarian ini ia lakukan bersama sang suami, Hao Haidong, seorang legenda sepak bola dan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah China yang juga ikut masuk dalam daftar hitam. Tragisnya, pengucilan ini tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari orang-orang terdekatnya.

 

“Mantan pemain tim nasional telah menghapus saya di WeChat. Dai Yun yang pernah menjadi teman sekamar saya adalah salah satunya,” ungkap Ye dalam sebuah pernyataan yang penuh kesedihan.

Ayah Ye pun pernah memohon agar dirinya berhenti memprotes dan menjalani hidup dengan tenang, namun Ye dan suaminya memilih untuk tetap menyuarakan kebenaran meski harus membayar harga yang sangat mahal dengan kehilangan kewarganegaraan dan rasa hormat di tanah air mereka.

Ye Zhaoying vs Susi Susanti. BWF

Hao Haidong menegaskan bahwa mereka tidak membenci rakyat China, melainkan menentang rezim yang dianggap telah berbuat jahat kepada mereka.

"Pemerintah China mengatakan kami pengkhianat, tapi kami hanya berbicara menentang rezim," tutup Hao.

Kini, jauh dari riuh Istora Senayan atau kemegahan Beijing, Ye Zhaoying hidup dalam pengasingan, menjadi pengingat abadi bahwa di balik medali emas yang berkilau, terkadang ada atlet yang harus mengorbankan segalanya demi integritas diri.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya