"Tolok ukur ini menarik karena masing-masing cabor punya metode dan sistem berbeda. Kalau dilihat dari pak Wamen (Taufik Hidayat), di bulutangkis ada sistem sirkuit," jelas Erick.
Sementara di cabor lain seperti angkat besi dan akuatik, sistem pembinaan dan pemusatan latihan bisa berbeda. Menpora menekankan bahwa tujuan dari sistem ini adalah efisiensi anggaran Kemenpora agar tersalurkan dengan tepat.
"Kompleksitas ini jadi alasan kami tandatangan dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) dan Kejaksaan untuk menghitung tolok ukur yang tepat. Kami tidak mau dianggap pemborosan,” sambung Erick Thohir.
"Itulah kenapa sistem evaluasi dari cabor yang promosi dan degradasi [penting]. Perlu ada target medali dan lain-lain. Kami dorong pendanaan maksimal tentu berharap hasil maksimal tapi jangan sampai ada temuan penyalahgunaan pendanaan," tukas Menpora Erick.
(Rivan Nasri Rachman)