DUA sosok yang bikin Valentino Rossi emosi hingga putuskan cabut dari tim Honda menarik diulas. Salah satunya bahkan membuat Valentino Rossi sampai merasa jengkel bukan main.
Diketahui, Rossi pernah membela Honda dalam perjalanan kariernya di MotoGP. Momen itu tepatnya terjadi sejak 2000 hingga 2003, atau tepatnya kala ajang kelas tertinggi masih bernama 500 cc hingga berubah menjadi MotoGP.
Sepanjang kariernya di Honda, The Doctor -julukan Valentino Rossi- bisa tampil moncer. Dia bahkan meraih 3 gelar juara beruntun, yakni pada 2001 hingga 2003.
Sayangnya, kebersamaan Rossi dengan Honda harus berakhir di penghujung musim 2003. Dia memutuskan pindah ke Yamaha dan tampil tak kalah moncer di sana karena bisa meraih 4 gelar juara lainnya di kelas MotoGP.
Ternyata, kepindahan Rossi dari Honda terjadi karena sejumlah faktor. Tangan kanan Valentino Rossi, yakni Alessio ‘Uccio’ Salucci, pun membeberkan penyebab itu. Dia menyebut ada dua sosok yang membuat Rossi emosi hingga putuskan cabut dari Honda. Siapa saja mereka?
Berikut 2 Sosok yang Bikin Valentino Rossi Emosi hingga Putuskan Cabut dari Tim Honda:
2. Carlo Fiorani
Salah satu sosok yang bikin Valentino Rossi emosi hingga putuskan cabut dari tim Honda adalah Carlo Fiorani. Dia menjabat sebagai Direktur Komunikasi Honda Racing Corporation (HRC) saat Rossi masih membela tim tersebut.
Uccio membeberkan momen yang membuat Rossi jengkel benar kepada Carlo Fiorani. Hal itu tepatnya terjadi di MotoGP Jepang 2003. Kala itu, Carlo Fiorani berbicara soal kontrak baru untuk Rossi.
Pasalnya, Rossi melakukan keterlambatan dalam penandatangan kontrak. Kondisi ini tak disukai oleh Honda. Sampai buntutnya, Carlo Fiorani memberi tenggat waktu kepada Rossi untuk segera menantangani kontrak itu. Rossi pun merasa kesal bukan main.
"Namun pada Motegi 2003, Carlo Fiorani menjemput kami di bandara di Tokyo. Kami berkendara bersamanya, ia menceritakan ada ketidakpuasan Honda karena keterlambatan penandatanganan kontrak," ucap Uccio, dilansir dari Mowmag, Selasa (27/8/2024).
"Carlo itu hebat, aku mengaguminya, tapi saat itu ia menyerang kami dengan cara luas biasa. Kemudian hari Kamis ia kembali ke kami di paddock, membawa kontrak besar dan bilang jika ia tak segera tanda tangan akhir pekan itu, maka tak ada tempat untuknya di Honda lagi," lanjutnya.
"Setelah beberapa hari Carlo kembali untuk mengambil kontraknya, yang masih berada di kulkas. Sejak itu Honda sadar kami pergi, tapi itu bukan momen bagus," jelas Uccio.