Pada 1984, 1985, dan 1986, ia bahkan berhasil menjuarai Piala Dunia Bulu Tangkis di sektor ganda putra. Ia juga berhasil membawa Tim Indonesia juara Piala Thomas pada 1976, 1979, dan 1984. Selain itu, ia berhasil membawa Tim Indonesia juara di SEA Games (1977, 1979, 1983, 1985, 1987) dan Asian Games (1978).
King identik dengan jumping smash-nya hingga membuatnya dijuluki sebagai “King Smash” sebab kekuatan smash-nya yang luar biasa. Seusai meraih banyak prestasi, ia gantung raket pada 1988. Karier spesial ini bahkan diangkat ke layar lebar dengan judul “King” dan dibuatkan buku biografi berjudul “Panggil Aku King” pada 2009 silam.
Seusai gantung raket, King terjun ke dunia bisnis dengan mengelola hotel di milik mertuanya Kawasan Jakarta. Ia juga membuka usaha griya pijat kesehatan. Sebab, ia terinspirasi dari pengalamannya dipijat semasa aktif sebagai pebulu tangkis.
Kini, King sudah menyerahkan usaha tersebut kepada anak-anaknya dan lebih menikmati kehidupan di rumah, seperti bermain dengan cucu-cucunya.
Demikian kisah Liem Swie King, raja smash terbaik yang pernah dimiliki Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional.
(Rivan Nasri Rachman)