Kemudian, aturan mesin motor yang digunakan di seluruh kelas pun akhirnya dibatasi. Pada 125 cc, mesin motor dibatasi sebanyak 1 silinder dan berat minimal 80 kilogram. Untuk 250 cc, mesin motor dibatasi sebanyak 2 silinder dengan berat minimal 100 kilogram. Lalu, MotoGP memakai mesin dengan jumlah silinder 3-6 dan pembatasan berat bervariasi tergantung jumlah silinder.
Perubahan kapasitas mesin motor di MotoGP pun tak berhenti sampai di situ. Pada 2010, FIM kembali memperbarui aturannya dengan memberlakukan pembatasan mesin. Setiap tim hanya menggunakan enam mesin dalam semusim.
Pada tahun yang sama, perubahan aturan juga terjadi di kelas 250 cc. Tetapi, perubahan tak berkaitan dengan kapasitas mesin, melainkan nama ajang. Kelas tersebut berganti menjadi Moto2 dengan basis mesin Honda CBR600RR dan sasis prototipe.
Dua tahun berselang, FIM memutuskan menaikkan lagi kapasitas mesin motor di MotoGP. Dari 800 cc menjadi 1.000 cc. Di kelas MotoGP, FIM juga memberlakukan regulasi CRT (Claiming Rule Team) yang memperbolehkan tim (kecuali tim pabtikan) memakai mesin motor massal 1.000 cc di sasis prototipe.
Kemudian, nama kelas 125 cc juga berubah pada tahun tersebut menjadi Moto3 dengan mesin 250 cc. Hingga kini, seluruh regulasi tersebut pun masih diterapkan di ajang balap motor grand prix dengan adanya penambahan beberapa hal baru.
(Ramdani Bur)