LESMO – Pembalap penguji Repsol Honda, Stefan Bradl, turut mengomentari sulitnya Monster Energy Yamaha bersaing memperebutkan gelar juara dunia MotoGP dalam beberapa musim terakhir. Menurut Bradl, Yamaha tertinggal dua tahun dari Honda dan Mission Winnow Ducati dalam hal pengembangan motor sehingga itu menyulitkan mereka untuk bersaing.
Motor Yamaha, YZR-M1, hingga saat ini kerap bermasalah dengan ban yang terlalu cepat panas yang membuat cengkraman akan cepat hilang. Di samping masalah itu, Yamaha pun masih memiliki penyakit lama yakni pengaturan perangkat elektronik YZR-M1 yang hingga saat ini belum ada obatnya.
Bradl menyebut kualitas motor Yamaha yang tak sebagus kuda besi Honda dan Ducati amat merugikan kedua pembalapnya, Maverick Vinales dan Valentino Rossi. Akan tetapi, Bradl menilai Rossi lebih dirugikan karena ia yang telah berusia 40 tahun masih amat berhasrat meraih gelar juara MotoGP sebelum pensiun.
BACA JUGA: Andaikan Tak Kecelakaan, Meregalli Percaya Vinales Bisa Podium di Le Mans
Namun, bagaimana Rossi bisa menjadi juara dunia MotoGP jika meraih podium di setiap balapan saja sulit. Kekecewaan Rossi terlihat saat gagal meraih podium pada balapan terakhir, MotoGP Prancis 2019, yang berlangsung di Sirkuit Le Mans, Minggu 19 Mei 2019.
Rossi hanya mampu menempati posisi lima sementara podium dikuasai Marc Marquez (Honda) dan dua pembalap Ducati, Andrea Dovizioso serta Danilo Petrucci. Posisi lima sampai 10 disebut Bradl tak akan memuaskan Rossi yang menargetkan jadi juara dunia MotoGP.
“Yamaha telah kehilangan pengembangan (YZR-M1) dalam dua tahun terakhir dibandingkan dengan Honda dan Ducati. Mereka tidur sedikit, jadi terlambat. Jelas Valentino (Rossi) mencoba untuk memimpin (di setiap balapan), tetapi jelas dia tidak puas dengan posisi kelima di (Sirkuit) Le Mans, dia ingin naik podium di usia 40 tahun. Dia tidak puas dengan posisi dari 5 sampai 10,” ucap Bradl, seperti yang dikutip dari Tuttomotoriweb, Minggu (26/5/2019).
(Andika Pratama)