Jefferson dari Arizona ke Spurs (Part 2)

, Jurnalis
Kamis 02 September 2010 09:33 WIB
Share :

JAKARTA – Richard Jefferson merupakan draft pilihan Houston Rockets. Bagaimana RJ akhirnya bisa bergabung dengan New Jersey Nets?
 
Nets mengambil power forward Eddie Griffin dari Seton Hall di urutan ke tujuh dan menukar Griffin ke Houston Rockets untuk mendapatkan RJ, Jason Collins, dan Brandon Armstrong [permainan Griffin sendiri tidak secemerlang saat ia bermain di Seton Hall Pirates. Eddie tidak mendapat bentuk permainan terbaik sampai dengan kematiannya pada tahun 2007, akibat kecelakaan mobil]. Tidak seperti nomor punggungnya selama ini, RJ menggunakan nomor punggung #24 di Nets, “Ketika aku masuk ke Nets, nomor kesayanganku [#44] sudah digunakan oleh Keith [Van Horn]. Nomor punggung #4 pun sudah dipensiunkan saat itu [milik Wendell Ladner, forward Nets tahun 1974-75]. Akhirnya saya memilih nomor #24 yang berarti dua kali [angka] empat.” jelas RJ tentang pemilihan nomor bajunya.
 
Nets sedang berusaha bangkit dari keterpurukan dengan melakukan beberapa perubahan di musim 2001-02 seperti: mendatangkan point guard Jason Kidd dari Phoenix Suns dan melepas point guard bengal, Stephon Marbury ke Phoenix. Akusisi-akusisi tepat yang diambil oleh Rod Thorn [termasuk mentrade Eddie Griffin dengan RJ] membuahkan penghargaan ‘Executive of the Year’ pada tahun 2002 [seiring dengan meroketnya prestasi Nets yang mencapai final NBA musim itu].
 
RJ memulai karirnya dari bangku cadangan [menggantikan Keith Van Horn] dan menjawab kepercayaan pelatih saat itu [Byron Scott]. RJ memiliki tembakan dua angka yang akurat, kemampuan bertahan yang luar biasa, dan daya lompat yang sangat tinggi. “Dia selalu dapat menangkap operan alley oop-ku dan menghujamkannya ke ring lawan tanpa rasa takut. Pergerakan dan timingnya membuatku merasa seakan dia sudah lama bermain bersamaku. Sepertinya aku menemukan tandem yang tepat.” timpal Jason Kidd ketika ditanya mengenai RJ, yang saat itu masih berstatus rookie. Bermain bersama point guard seperti Jason Kidd [yang mendapat penghargaan All NBA First Team dan All NBA Defensive Team, serta menjadi runner up dalam voting MVP musim itu] adalah sebuah berkah untuk RJ. Di akhir musim rookienya, RJ finish di peringkat ke dua untuk kategori penghargaan Rookie of the Year [berada di dibawah rookie Memphis asal Spanyol, Pau Gasol] dengan catatan 9.4 ppg, 3.7 rpg, dan 1.8 apg.
 
Musim itu adalah masa keemasan Nets. Bersama dengan komposisi lineup: Tod MacCulloch, Kenyon Martin, Keith Van Horn, Kerry Kittles, dan Jason Kidd, Nets melaju ke Playoffs dengan rekor menang-kalah 52-30 [menjuarai divisi Atlantik untuk pertama kalinya]. Nets menuju ke putaran Playoffs sebagai tim peringkat satu dari wilayah Timur [sampai akhirnya kalah dari Lakers di Final NBA 2002]. “RJ selalu datang pada saat yang tepat. Ia tidak pernah mengeluh soal statusnya [baik sebagai starter atau sebagai pemain cadangan]. Ia mengerti bahwa saat itu ia masih berstatus rookie dan masih harus belajar banyak. Tapi yang aku lihat permainannya sudah seperti seorang profesional. Ia sungguh dewasa untuk ukuran seorang pemain yang baru berumur 21 tahun.” puji Byron Scott terhadap pemain bertinggi badan 201 cm ini.
 
Karena terjadi konflik antara Kenyon Martin dan Keith Van Horn, manajemen Nets memilih untuk mengirim Van Horn [bersama MacCulloch] ke Sixers dan mendapatkan center Dikembe Mutombo dari hasil trade. Tindakan itu diambil karena Bryon Scott telah memplot Richard Jefferson untuk menjadi starter [menggantikan Van Horn] di musim berikutnya...[bersambung ke RICHARD JEFFERSON DARI ARIZONA KE SPURS PART 3/TERAKHIR]
 
Neilson Gautama
NBA Presenter
 
Follow my twitter at: https://twitter.com/neilsongautama
Join group NBA Indonesia on facebook: https://www.facebook.com/group.php?gid=58998467527

(Hendra Mujiraharja)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya