JAKARTA - Kartu Tanda Anggota (KTA) menjadi evaluasi serius PP Pelti di Pekan Olahraga Tenis (PON) 2009. Otoritas tenis Tanah Air itu menilai gampangnya petenis nasional gonta-ganti daerah menjadi kelemahan dalam proses pembinaan.
Dalam penyelenggaraan PON Tenis pertama itu, tercatat beberapa petenis yang membela daerah berlainan. Elbert Sie misalnya, dia sebelumnya membela Kalimatan Timur (Kaltim) di PON 2008, tapi kini beralih membela Jawa Barat (Jabar).
Meski hal itu tak bertentangan karena sesuai dengan ADRT PP Pelti, tapi seringnya petenis Indonesia gonta-ganti daerah diyakini akan menghambat kesinambungan pembinaan tenis di Tanah Air.
Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti Johanes Susanto mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan dalam turnamen pertama ini. Salah satunya dalam penyeleksian KTA sebagai syarat sebagai peserta. "Sah saja, tapi pembinaan tentunya akan terganggu ketika pemain itu selalu berpindah-pindah," kata dia kepada wartawan, Kamis (2/7/2009).
Faktor keterhambatan yakni terletak ketika seorang petenis dibina di satu daerah, tapi dia justru beralih tempat ketika dianggap sudah matang. Kenyataan ini yang menjadi pekerjaan rumah pihaknya untuk lebih selektif ke depannya.
Johanes menyesalkan seringnya petenis hilir mudik membela daerah berlainan karena adanya faktor pendukung. Sialnya, dalang di balik gampangnya petenis Indonesia pindah-pindah terletak di tubuh Pelti sendiri. "Masih ada orang Pelti yang menjadi seorang broker. Hal ini sebenarnya patut disayangkan," ungkapnya.
Meski demikian, dia menilai penyelenggaraan PON Tenis yang masih berlangsung ini berjalan sesuai harapan. Masyarakat Indonesia, terutama pecinta tenis Tanah Air sudah kembali terlibat untuk menggairahkan dunia tenis.
"Kami berharap hasil positif ini akan kembali berlanjut di event berikutnya. Semuanya bertujuan untuk lebih meningkatkan prestasi tenis Indonesia ke arah lebih baik," cetus Johanes.
Sementara di pertandingan Kamis (2/7/2009), terutama di Kelompok Umur (KU)-14. Walk Out (WO) mewarnai nomor tersebut. Panitia pertandingan tercatat memutuskan tiga WO kepada pasangan Ade Ariefendi/Fachrurrozi asal Riau. Mereka tak hadir ke lapangan saat menghadapi pasangan Jabar Reza Wiratama/Rexy Baskoro.
Pemberian WO pun diberikan kepada pasangan putri DKI Jakarta Woyla Waluyo/Kely Restiana. Panitia pun langsung memberikan kemenangan kepada pasangan Jawa Tengah (Jateng) Evita Febri Hapsari/Idhun Safa'ati. Terakhir, pasangan Devi Hasan/Diandra Berliana asal Sulawesi Utara juga diberi WO setelah tak datang ke lapangan untuk menghadapi Annisha Nanda/Vania Iqsora dari Riau.
"Kami sudah memberitahu mereka jika main pagi, tapi mereka tetap datang terlambat meski kami telah memberi toleransi dua jam. Akhirnya kami terpaksa mengeluarkan keputusan tersebut," kata Wasit Junior Eka Rahmat.
(Fetra Hariandja)