JAKARTA - Pembalap F1, Fernando Alonso, mengungkap pembalap yang menjadi rival terberatnya. Nama yang dimaksud bukanlah Lewis Hamilton atau Michael Schumacher.
Pembalap asal Spanyol ini memulai karier balap F1-nya pada tahun 2000 bersama Minardi. Kini 26 tahun kemudian, ia masih berkompetisi F1 dengan membalap untuk Aston Martin.
Melansir sportbible, Jumat (28/8/2026), ada penggemar yang berpendapat pembalap berusia 45 tahun ini termasuk salah satu pembalap terhebat yang pernah berkompetisi di olahraga ini. Ia memiliki prestasi yang mendukung anggapan tersebut dengan torehan dua gelar Juara Dunia.
Namun, mungkin musim terbaiknya adalah saat ia berhasil membawa mobil Ferrari yang kurang kompetitif untuk bersaing memperebutkan gelar juara pembalap tahun 2012 melawan Sebastian Vettel dengan mobil Red Bull-nya. Ia kalah tipis dengan selisih hanya tiga poin setelah Grand Prix terakhir musim itu yang tak terlupakan di Brasil.
Vettel bukan satu-satunya rival yang berkesan bagi Alonso sepanjang kariernya, karena ia juga terlibat pertarungan sengit dengan Michael Schumacher dan Lewis Hamilton pada 2000-an.
Pembalap Spanyol ini berhasil mengungguli pembalap Jerman tersebut pada tahun 2005 dan 2006 saat ia meraih dua gelar juara pembalap, sekaligus mencegah Schumacher menambah koleksi rekor tujuh gelar juara F1-nya.
Hamilton memiliki rivalitas yang tak terlupakan dengan Alonso pada tahun 2007 saat keduanya berada di tim McLaren. Saat itu tim memilih untuk mendukung talenta muda asal Inggris tersebut, sebuah keputusan yang terbukti tepat karena Hamilton kemudian memenangkan gelar juara tahun 2008.
Pembalap asal Inggris itu kemudian berhasil menyamai rekor tujuh gelar juara F1 milik Schumacher, menjadikan keduanya sebagai dua pembalap paling sukses dalam sejarah olahraga ini.
Dalam sebuah wawancara dengan Viaplay, Alonso kini mengakui Max Verstappen adalah pembalap terbaik yang pernah menjadi lawannya di lintasan.
"Dia adalah rival terbaik yang pernah saya hadapi di lintasan, terutama karena dia benar-benar tidak memiliki kelemahan," katanya.
"Saya memberi nilai 9,9 untuk Max. Mengapa bukan 10? Karena saya yakin dia pasti memiliki titik lemah di suatu tempat. Semua orang memilikinya. Kita saja yang belum menemukannya," tuturnya.
Ia pun mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang diperbuat Verstappen ketika masih berusia belia. Namun, ia mewajarinya kesalahan tersebut.
“Saat Max berusia tujuh belas, delapan belas, atau sembilan belas tahun, terkadang ia memiliki energi yang berlebih. Ia sempat melakukan kesalahan, seperti masuk ke jalur pit dengan kecepatan terlalu tinggi. Hal itu wajar pada usia tersebut. Namun, setelah musim kedua atau ketiganya, hal itu tidak lagi terlihat.
Namun, Verstappen semakin matang dan menunjukkan performa yang luar biasa. Ia pun membagikan resep untuk mengalahkan Verstappen.
“Setelah itu, fokusnya hanyalah soal performa, performa, dan performa. Ia tampil luar biasa dan menetapkan standar baru bagi semua orang. Jika ingin mengalahkan Max di lintasan, Anda mau tak mau harus meningkatkan kemampuan diri sendiri,” tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.