GELARAN perdana Common Ground Fight Vol. 1 City Class sukses mencuri perhatian dengan konsep yang tidak biasa. Tidak hanya menghadirkan pertandingan boxing, acara ini juga menggabungkan unsur musik, seni, hingga budaya komunitas dalam satu panggung yang sama.
Founder Common Ground Fight, Valdi, menegaskan konsep yang mereka bangun memang berbeda dari event combat sport pada umumnya. Ia menyebut, Common Ground Fight dirancang sebagai pengalaman baru yang menyatukan berbagai skena anak muda.

“Di main event ini yang seperti Common Ground Fight itu, enggak hanya boxing, tapi juga art, dan musik. Kemudian juga melibatkan vespa itu juga karena buat experience baru, jadi ada Sunmori vespa tadi pagi,” ujar Valdi.
Tak berhenti di situ, Valdi mengungkapkan ke depan pihaknya akan membuka ruang lebih luas bagi berbagai komunitas untuk terlibat langsung, bahkan hingga naik ke atas ring.
“Kayak berbagai skena lah, misalkan dari motor, dari media mungkin, terus juga dari art, dari komunitas apa pun lah. Untuk ikut dalam fight ini? Iya,” kata Valdi.
Ia juga memastikan Common Ground Fight Vol. 2 tengah disiapkan dan direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Menariknya, bukan hanya komunitas umum, tim media pun akan diajak untuk ikut merasakan atmosfer bertanding.
“Rencananya untuk Volume 2 itu rencana di Agustus. Kami akan ajak juga teman-teman dari tim media, siapa tahu tertarik untuk ikut boxing?” lanjutnya.
Menurut Valdi, tidak ada persyaratan khusus untuk ikut serta, selama kondisi fisik peserta dalam keadaan sehat. Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan fisik dan stamina sebagai modal utama.
“Persyaratan sih nggak ada yang penting, kesehatan terjaga dari cedera apa pun atau ya intinya dari sisi jasmaninya sehat, itu bisa ikut. Yang harus disiapkan pasti fisik sih, mau fisik dan stamina. Mau mentalnya kuat, tapi kalau fisiknya nggak kuat juga nggak bisa sih,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tingginya minat generasi muda terhadap combat sport saat ini. Karena itu, Common Ground Fight hadir sebagai wadah yang lebih aman dan terstruktur, khususnya untuk kalangan pelajar.
“Peminat combat sport saat ini begitu banyak. Kami menyediakan wadah bagi anak-anak muda yang ingin fight; khususnya para pelajar. Daripada mereka berantem di jalanan. Jadi lebih baik kami sediakan tempatnya,” tegas Valdi.
Sementara itu, Promotor Common Ground Fight, Reza Burhan, menjelaskan bahwa edisi pertama ini menjadi fondasi awal untuk membangun ekosistem yang lebih besar ke depan.
“Ini namanya Common Ground Fight Vol. 1 City Class. Kita nanti akan ada vol. 2 kira-kira di bulan Agustus. Isinya bukan cuma tentang martial art. Ada musik dan ada art,” kata Reza.
Ia menambahkan konsep kolaboratif menjadi kunci utama event ini. Sejumlah komunitas seperti vespa dan art turut dilibatkan untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
“Dan tapi utamanya adalah martial art atau boxing yang ada di sini. Kita kolaborasi dengan banyak komunitas. Ada komunitas vespa, ada komunitas art,” ujarnya.
Pada gelaran perdana ini, tercatat sebanyak 60 fighter turut ambil bagian. Seluruhnya merupakan peserta amatir yang baru memulai karier di dunia combat sport.

“Total fighter hari ini ada 60 peserta. Mereka semuanya amatir. Yang merupakan pemula atau debutan di sini,” ungkap Reza.
Ke depan, Common Ground Fight akan menghadirkan variasi aturan dan konsep pertandingan yang lebih beragam. Bahkan, rencana menuju level profesional sudah disiapkan secara bertahap.
“Ini hanya boxing. Di series kedua akan ada macam-macam rules. Yang tentunya akan lebih menarik. Soal jenjang karier (boxing), untuk amatir ya kita bikin mereka berpengalaman dulu. Untuk profesionalnya di series keempat nanti,” jelasnya.
Sebagai informasi, Common Ground Fight merupakan platform combat sport berbasis komunitas yang mempertemukan berbagai latar belakang, mulai dari komunitas motor, suporter, hingga street culture dalam satu arena.
Event ini lahir dari kolaborasi tiga entitas kreatif, yakni Gasskiw, Hantam Keras, dan Rumah Bergerak. Meski memiliki pendekatan berbeda, ketiganya dipersatukan oleh visi yang sama.
“Lahir dari kolaborasi Gasskiw, Hantam Keras, dan Rumah Bergerak dengan tiga latar yang berbeda creative movement. Dipertemukan dalam satu ide, menciptakan ruang setara untuk bertemu, bereskpresi, dan bertarung,” jelas Valdi.
Lebih jauh, Common Ground Fight tidak hanya diposisikan sebagai event semata, tetapi sebagai ekosistem jangka panjang yang terus berkembang.
“Dibangun sebagai event series yang berkelanjutan, Commond Ground Fight tidak hanya menjadi panggung. Akan tetapi juga ekosistem yang terus berkembang dengan menghadirkan ruang baru bagi komunitas untuk tumbuh, terkoneksi, dan bergerak bersama,” tambahnya.
Fenomena ini sejalan dengan tren global, di mana combat sport semakin populer sebagai bagian dari budaya urban. Olahraga seperti boxing hingga MMA kini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga medium ekspresi diri.
Di Indonesia, tren serupa juga terlihat dari meningkatnya jumlah event komunitas serta tingginya minat generasi muda terhadap olahraga pertarungan yang dikemas secara kreatif dan aman.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.