PEMAIN asing PSIM Yogyakarta, Rahmatsho Rahmatzoda, menjalani Ramadhan pertamanya di Indonesia bersama skuad berjuluk Laskar Mataram. Meski harus berpuasa jauh dari keluarga di Tajikistan, pemain 21 tahun itu mengaku tetap bisa menikmati suasana bulan suci meski ada agenda padat Super League 2025-2026.
Rahmatsho Rahmatzoda menjadi salah satu pemain muslim di skuad PSIM Yogyakarta yang menjalani aktivitas Ramadan di Yogyakarta. Ia harus melewati momen tersebut tanpa kehadiran keluarga yang berada di kampung halamannya.
Pemegang tiga caps bersama Timnas Tajikistan itu mengaku tidak mengalami kesulitan beradaptasi saat berpuasa di Indonesia. Menurutnya, lingkungan serta masyarakat di Indonesia membuat proses adaptasinya berjalan lebih mudah selama Ramadhan.
“Saya sangat jatuh cinta dengan negara ini. Saya menyukai semuanya, dan saya ingin tinggal di sini untuk waktu sangat lama. Menurut saya esensi bulan suci Ramadan dimana saja tetaplah sama,” kata Rahmatsho Rahmatzoda, Okezone mengutip dari laman resmi PT Liga Indonesia Baru (iLeague), Minggu (8/3/2026).
Rahmatsho Rahmatzoda juga mengingatkannya pada kebiasaan hangat yang biasa ia jalani bersama keluarga di kampung halaman. Momen tersebut biasanya diisi dengan berkumpul bersama keluarga dan teman selama bulan suci.
“Tidak ada persiapan khusus untuk Ramadan kali ini, hanya saja biasanya ada banyak keluarga dan teman. Bisa menghabiskan bulan seperti ini bersama keluarga adalah hal sangat luar biasa,” ucap Rahmatsho Rahmatzoda.
Meski rindu keluarga, pemain kelahiran 6 April 2004 itu tetap berkomitmen penuh terhadap profesinya sebagai pesepakbola. Mantan pemain Persijap Jepara itu menilai pengorbanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier di dunia sepakbola.
“Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat ingin menghabiskan hari-hari seperti ini bersama keluarga. Namun, sepakbola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepakbola,” jelasnya.
Rahmatsho juga memastikan ibadah puasa tidak mengganggu aktivitasnya di lapangan. DIa justru merasa mendapatkan tambahan energi selama menjalani Ramadan. Pemain bernomor punggung 63 itu mengaku tetap mampu menjaga kondisi fisiknya melalui pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka. Cara tersebut membuatnya tetap bugar meski menjalani latihan dengan intensitas tinggi.
“Sama sekali tidak sulit, sebaliknya di bulan ini saya justru mendapatkan lebih banyak energi dan kekuatan, Ramadan sangat penting bagi saya,” ujar Rahmatsho Rahmatzoda.
“Sama sekali tidak memberatkan. Saya makan di pagi hari saat sahur dan kemudian saat berbuka puasa. Bisa dibilang pada masa-masa seperti ini, saya justru memiliki lebih banyak kekuatan dan energi,” tambahnya.
Rahmatsho Rahmatzoda juga tidak mengalami kesulitan dalam memilih makanan selama berada di Yogyakarta. Menurutnya, cita rasa makanan di kota tersebut tidak jauh berbeda dengan hidangan yang biasa ia temui di Tajikistan.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.