Share

Soal Investigasi Tragedi Kanjuruhan, KontraS Minta Aremania Disertakan dalam Tim Independen

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 04 Oktober 2022 03:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 43 2680051 soal-investigasi-tragedi-kanjuruhan-kontras-minta-aremania-disertakan-dalam-tim-independen-BDSygvSDs6.jpg Aremania diharapkan terlibat dalam tim investigasi Tragedi Kanjuruhan (Foto: MPI/Avirista Midaada)

SOAL investigasi Tragedi Kanjuruhan, KontraS minta Aremania disertakan dalam tim independen. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak agar Aremania dilibatkan dalam tragedi yang memakan ratusan nyawa manusia itu.

Aremania selaku korban dari tragedi ini diharapkan mau untuk ikut serta dalam investigasi di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sebab, KontraS menduga adanya korban yang lebih dari data pemerintah, yang berjumlah 125 orang.

Arema FC

"Kami belum membuat laporan utuh, kami dapat beberapa informasi kunci dari kerabat korban, saksi langsung yang menyaksikan detik-detik peristiwa itu secara langsung. Kami harap itu bisa jadi masukan ke polisi, lembaga negara yang berkaitan HAM bisa melakukan verifikasi terkait hal itu," ucap Andi Irfan Junaeddi, Federasi KontraS, saat menemui Aremania pada Senin (3/10/2022).

Menurutnya, beberapa informasi yang masuk dari teman-teman Aremania di Pasuruan, Blitar, dan daerah-daerah pelosok di Kabupaten Malang yang korbannya belum terkonfirmasi pihak berwenang. Makanya KontraS bekerjasama dengan Aremania membuka posko aduan guna memastikan jumlah pasti korban jiwa dan luka akibat tragedi sepakbola ini.

"Pagi tadi kami membuka pos pengaduan dapat telpon dari bapak di Pasuruan anaknya meninggal, seorang kerabat di Pakis anaknya meninggal, ini peristiwa yang nalar kemanusiaan kita dipertanyakan," kata dia.

Ia meminta agar negara bertanggungjawab bukan hanya memberikan santunan kepada korban tapi juga hak restitusi akibat penyalahgunaan wewenang menjaga keamanan di laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. Apalagi di laga tersebut sebenarnya, Aremania memasuki lapangan bukan untuk menyerang pemain tapi ingin menyemangati pemain dan berfoto-foto bersama.

"Ke lapangan tidak akan melakukan tindakan kekerasan, tapi hanya ingin memberikan support karena kalah. Tapi pengen selfie, foto, tapi direspon oleh aparat keamanan yang berlebihan, yang memicu penonton lain turun ke lapangan. Aparat keamanan berjaga di sana harusnya mampu mencegah kerumunan," ungkapnya.

 Arema FC

Tapi yang terjadi justru sebaliknya aparat kemanan 'kompak' untuk menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Padahal di tribun itu ada banyak orang anak-anak, ibu-ibu, dan perempuan yang tidak turun ke lapangan.

"Kita punya polisi yang dilatih bukan membunuh, terlatih dan dilatih untuk mencegah adanya korban bukan untuk menimbulkan korban. Di 1 Oktober terlatih menimbulkan korban, ketika kerumunan massa menembakkan gas air mata ke arah tribun ada anak anak, ibu-ibu dan orang yang rentan. Ada rekaman video sorak-sorai semangat menembakkan gas air mata," paparnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini