WYNNE Prakusya telah menjadi salah satu petenis putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Di sepanjang kariernya, Wynne Prakusya yang dijuluki Ratu Tenis Indonesia ini sudah bermain di berbagai ajang bergengsi, termasuk Olimpiade. Dia mentas di dua seri, yakni Olimpiade Sydney 2000 dan Olimpiade Athena 2004.
Wynne pun mengaku bangga bisa bermain di dua kesempatan pesta olahraga terbesar di dunia itu. Menurutnya, seorang atlet belum lengkap rasanya jika tak bertanding di Olimpiade. Pengalaman di sana pun diakuinya jadi sangat langka karena tidak semua atlet bisa menjadi seorang Olympian.

“Saya sangat bangga bisa main di Olimpiade karena tidak semua atlet bisa main di sana dan kurang lengkap rasanya kalau seorang atlet belum main di Olimpiade. Apalagi petenis Indonesia sendiri tidak banyak yang main, meskipun secara keseluruhan juga atlet Indonesia tidak banyak yang main di Olimpiade,” kata Wynne saat dihubungi via telepon oleh MNC Portal Indonesia.
BACA JUGA: Jadi Petenis Top Dunia, Naomi Osaka Merasa Tidak Bersyukur
Selama mentas di Olimpiade, Wynne Prakusya pun dihadapkan dengan lawan-lawan hebat. Perempuan asli Solo itu bahkan dihadapkan dengan Mirka Federer, yang merupakan istri dari bintang tenis dunia, Roger Federer.
BACA JUGA: Wynne Prakusya, si Ratu Tenis Indonesia yang Rela Jauh dari Keluarga Sejak 9 Tahun
Hal itu terjadi di babak pertama Sydney 2000. Sayangnya, kekalahan harus ditelan Wynne Prakusya. Seingatnya, saat itu Mirka ada di peringkat 70-an dunia. Meski kalah, itu tetap menjadi salah satu kenangan yang tidak bisa dilupakannya.
“Pengalaman yang tidak dilupakan saat Sydney 2000 itu saya kalah dari istri Roger Federer, si Mirka. Kalau tidak salah, saat itu dia ada di peringkat 70-an dunia,” kata petenis yang kini berusia 40 tahun itu.
Pengalaman yang tak kalah berharga didapat Wynne kala mentas di Olimpiade Athena 2004. Kala itu, dia bermain di nomor ganda putri bersama Angelique Wijaya alias Angie. Saat itu, mereka dihadapkan dengan sang pemegang medali emas, Li Ting/Sun Tiantian, di babak pertama Olimpiade.
Tetapi, kekalahan harus kembali didapatnya. Kekalahan dari pasangan asal China itu benar-benar di luar dugaan Wynne dan Angie. Sebab, di atas kertas mereka memiliki rekor yang bagus saat melawan pasangan Negeri Tirai Bambu itu.

Wynne berpendapat bahwa tekanan yang besar saat membela nama Indonesia menjadi penyebab penurunan performa mereka di Olimpiade.
“Kalau di Athena, saya hanya main di double sama Angie dan saat itu kalah di babak pertama juga dari yang juara Olimpiade saat itu. Kalau dibilang bad draw ya bad draw,” jelas Wynne.
“Enggak nyangka juga mereka bisa juara karena di pertandingan turnamen biasa, kita menang dari mereka. Tapi mereka di Olimpiade tiba-tiba mainnya bagus banget, saya dan Angie juga kaget banget waktu itu,” lanjutnya.
“Kalau sudah bawa negara memang kadang berbeda, tekanannya itu lebih berat karena kalau kalah kan bikin kecewa rakyat Indonesia,” pungkasnya.
(Djanti Virantika)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.