JAKARTA - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, memiliki harapan besar agar tunggal putri Indonesia bisa bangkit dan berprestasi di level internasional. Karena saat ini, tunggal putri Indonesia diakui Susy sebagai sektor yang paling tertinggal dibanding empat sektor lainnya di pelatnas.
Salah satu faktor yang dinilai Susy membuat tunggal putri Indonesia tampil melempem adalah kurangnya daya juang ketika bertanding. Menurutnya, tunggal putri Indonesia kurang galak dan cekatan di atas lapangan, utamnya jika harus mengejar bola.
(Baca juga: Indonesia Akan Andalkan 3 Sektor di Indonesia Open 2019)

"Di lapangan itu harus kejar bola ke manapun, mungkin ini sepertinya sepele, tapi kan kebiasaan. Mungkin sudah terbiasa, 'Ya sudah lah.’ Tidak bisa kayak gitu kan, makanya mindset-nya harus diubah, sikapnya diubah," terang Susy, menyadur dari laman resmi PBSI, Rabu (26/6/2019).
"Sudah, tidak usah memikirkan apa-apa, nekad dulu di lapangan. Sampai saya bercandain, apa perlu dikasih daging macan ya biar galak? Ha ha ha. Jangan kelemer-kelemer, memang kita ini putri Timur, tapi kalau di lapangan kan bukan putri Timur lagi,” lanjutnya.
“Di depan kalian itu musuh, lho, harusnya berpikir, dia atau saya yang mati? Harusnya berpikir seperti perang, kalau kita tidak melawan, ya kita yang akan mati. Itu yang kami terapkan, saya sendiri juga gemas," pungkas Susy.

Saat ini, status tunggal putri terbaik Indonesia dipegan oleh Gregoria Mariska Tunjung. Ia sekarang menempati posisi ke-13 dunia. Meski begitu, harus disayangkan karena Gregoria belum bisa tampil konsisten. Hal itu pun disayangkan oleh Susy.
(Fetra Hariandja)